Sabtu, 09 Mei 2009

Malam Sehabis Tahajjud


Ada cucuran airmata
Menitik bersama do’a
Yang sengaja kutabur
Dalam kehampaan jiwa
Malam sehabis tahajjud
Kucoba menakar dosa
Yang terlanjur kugambar
Pada perjalanan-perjalananku
Yang tlah berlalu
Malam sehabis tahajjud
Di atas sajadah membasah
Aku gemetar dalam istighfar
Tenggelam dalam dzikir panjang
Biarpun aku yakin itu sia-sia
Sebab keangkuhan terlampau keras
Meski kucobc luluhkan dengan airmata
Hanya saja,
Dibatas keputusasaan
Diujung usia yang menyisa
Aku menggenggam sekeping asa
Untuk menemui-Mu
Suatu saat

MENJADI MUSLIM MANDIRI

Dutsur Ilahi:
“Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (At-Taubah [9]: 105)
Motivasi:
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (Ar-Ra’d [13]: 11)
Kisah Teladan:
Ini kisah seorang Muhajirin bernama Abdurrahman bin ‘Auf dengan Qais bin Rabi’ seorang sahabat Anshar. Sebelum hijrah Abdurrahman bin ‘Auf adalah seorang saudagar kaya, namun ia rela meninggalkan harta kekayaannya di Mekkah demi menjaga iman. Suatu ketika Qais berkata kepadanya, “Aku berikan separo hartaku untukmu. Aku juga memiliki dua orang istri, aku beri kamu bagian satu orang.” Namun Abdurrahman bin ‘Auf menjawab dengan penuh ketegasan, “Aku tidak memerlukan itu, tunjukkanlah pasar padaku.” Abdurrahman lalu pergi ke pasar dan mulai saat itu ia berusaha mencukupi kebutuhan hidupnya dari usaha tangannya sendiri.
Menakjubkan, bukan? Begitulah, dan sudah sewajarnya orang yang berusaha mandiri memperoleh penghargaan yang pantas sebagaimana sabda Rasulullah Saw., “Barang yang paling bagus dimakan seseorang adalah yang merupakan hasil kerjanya.” (HR. Ibnu Majah dan Ahmad). Juga diungkapkan dalam hadits lain, “Barangsiapa di malam hari merasa letih karena bekerja dengan tangannya, maka di malam itu ia memperoleh ampunan Allah.” (HR. Ahmad)
Pokok Kajian: Mengapa Harus Kaya dan Mandiri?
Jauh-jauh waktu Nabi Saw., telah mengingatkan kita, bahwa kefakiran dapat menyeret seorang hamba menuju kekafiran. Itu artinya kita harus kaya. Kita harus mandiri. Sebab hanya dengan kemandirian itulah kita dapat menjaga kehormatan, harga diri dan kewibawaan. KH. Abdullah Gymnastiar, da’i sekaligus wirausahawan muslim mengemukakan setidaknya ada empat poin alasan mengapa umat harus kuat secara ekonomi,
Pertama, ekonomi lemah berarti ibadah tidak bisa maksimal.
Kedua, ekonomi lemah menurunkan tingkat pendidikan
Ketiga, ekonomi lemah berarti tingkat kesehatan masyarakat rendah.
Keempat, ekonomi lemah berarti gerbang menuju penjajahan gaya baru.
TIPS! Bikin Hidup Lebih Kaya
Jadilah Pedagang!
“Usaha yang paling utama dalah jual beli yang baik dan pekerjaan seorang laki-laki dengan ketrampilan tangan sendiri.” (HR. Ahmad)
Bekerja sesuai dengan bakat dan kemampuan
“Katakanlah: ‘Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing. Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya.” (Al-Israa’ [17]: 84)
Memilih pekerjaan yang baik dan halal meskipun sulit
Allah berfirman, artinya, “Katakanlah: ‘Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwlah kepada Allah hai orang-orang yang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan.” (Al-Maidah [3]: 100). Niat yang baik tidak menjadikan yang haram menjadi halal.
Bekerja dengan sungguh-sungguh
Allah berfirman, artinya, “Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya.” (Al-Hajj [22]:78)
Mengoptimalkan potensi diri yang ada
Allah berfirman, artinya, “Katakanlah: ‘Hai kaumku, berbuatlah sepenuh kemampuanmu, sesungguhnya aku pun berbuat (pula).” (Al-An’aam [6]: 135)
Jangan tidur di waktu pagi
“Jika telah melakukan shalat di waktu pagi (shubuh) maka janganlah kamu tidur (sehingga tidak sempat) mencari rizki-rizkimu.” (HR. Thabrani)
“Berpagi-bagilah untuk mencari rizki dan kebutuhan-kebutuhan, sebab pagi itu membawa berkah dan kesuksesan.” (HR. Thabrani)

Oleh: Eko Triyanto [eko_nomisyariah@telkom.net]
Disampaikan pada Pengajian Remaja Masjid Pojok-Babadan
Sabtu, 07 April 2007

URGENSI PENDIDIKAN AGAMA

Oleh: Eko Triyanto

Bangsa Indonesia telah lama dikenal sebagai bangsa yang memiliki kebudayaan dan perikehidupan yang luhur. Bangsa yang ramah, bangsa yang santun, bangsa yang mampu menghormati perbedaan, suka bergotong-royong dan segudang sanjungan lainnya. Tentu semua pujian itu berangkat dari realitas kehidupan bangsa ini yang memang di masa lalu sangat menghargai moral dan nilai-nilai kemanusiaan.
Sayangnya arus kebudayaan asing yang terus membanjiri bangsa ini mengikis nilai-nilai luhur itu. Kapitalisme dengan segala bentuk dan ragamnya telah mengajarkan kepada generasi penerus bangsa ini budaya hidup yang jauh dari norma-norma sosial dan agama. Sekarang, lambat tapi pasti sikap hidup yang permisif, hedonis, individualis, dan materialis menjangkiti masyarakat. Bukan tidak mungkin hal tersebut kian membunuh karakter bangsa ini sebagai bangsa timur yang dikenal sangat menjunjung nilai moral.

Tinjauan Tentang SQ
Sejak diketahui bahwa SQ (spiritual quotient) atau kecerdasan spiritual sangat berperan signifikan dalam mendorong prestasi dan karir. Orang yang memiliki kecerdasan spiritual tinggi berpotensi memiliki karakter-karakter unggul yang akan memudahkan dalam proses interaksi dengan orang lain maupun lingkungan kerja. Kecerdasan spiritual akan memunculkan sikap-sikap positif seperti kejujuran, kedisiplinan, loyalitas, pantang menyerah dan sebagainya.
Banyak orang kemudian sadar bahwa ternyata nilai-nilai spiritual yang dalam hal ini dapat diwakili oleh peran agama sangat penting untuk ditanamkan kepada anak didik. Kecerdasan spiritual banyak menjadi tumpuan memperbaiki karakter seseorang untuk membuat kemajuan yang berarti. Meskipun dalam pelaksanaannya ternyata hasil yang dicapai belum sesuai harapan. Sekian lama kemerosotan moral belum juga mampu dibendung meskipun nilai-nilai agama telah diajarkan di sekolah dari tingkat Sekolah Dasar hingga Perguruan Tinggi. Bahkan ada kecenderungan kegersangan jiwa dan keringnya nilai spiritual kian meningkat.
Tentu semua itu bukan semata kesalahan dari pelaksanaan pendidikan agama di sekolah. Sebab faktanya, banyak faktor lain yang turut serta dalam mempengaruhi kehidupan beragama seseorang. Lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat dan lingkungan pergaulan ternyata memiliki porsi yang lebih kuat untuk memberi pengaruh. Maka semestinya dalam pelaksanaan pendidikan agama harus melibatkan semua pihak dan menjadi tanggung jawab bersama. Peran serta orang tua sangat dibutuhkan untuk ikut serta melakukan kontrol terhadap perilaku anak selama di lingkungan keluarga. Dengan demikian proses pendidikan akan terlaksana secara berkesinambungan dan lebih efektif guna mencapai hasil yang diinginkan.

Menanamkan Nilai Moral
Prof Zakiah Daradjat (1978) menyatakan bahwa moral bukanlah suatu pelajaran yang dapat dicapai dengan mempelajari saja, tanpa membiasakan hidup bermoral dari sejak kecil. Moral itu tumbuh dari tindakan kepada pengertian dan tidak sebaliknya.
Dengan demikian diharapkan pendidikan agama bukanlah sekedar pengalihan pengetahuan keagamaan (transfer of religion knowledge) dari guru ke siswa. Namun hendaknya mampu mengarahkan dan membina agar perilaku siswa dapat sesuai dengan tuntunan agama. Lingkungan sekolah harus menjadi representasi dari kehidupan keagamaan agar siswa dapat menemukan model lingkungan yang sesuai dengan ajaran agama. Proses pendidikan agama itu dapat berlangsung sepanjang siswa masih di lingkungan sekolah. Bukan sebatas saat pelajaran agama saja. Dengan demikian perlu kerjasama antara semua warga sekolah untuk dapat menciptakannya.
Pendidikan itu bisa dimulai dari hal-hal kecil, karena sesungguhnya Islam mengatur segala persoalan dalam kehidupan di dunia ini. Mulai dari sikap saling menghormati, kasih sayang, perilaku yang baik terhadap teman, adab makan-minum, adab berbicara kepada orang lain dan masih banyak lagi. Dan jangan dilupakan bahwa kedisiplinan, menepati janji, berbuat jujur, saling menolong dan perbuatan terpuji lainnya juga merupakan ajaran agama yang sangat penting untuk diajarkan dan dilaksanakan.
Terkadang pendidikan agama menjadi kurang menarik karena dianggap belum menjadi kebutuhan yang mendesak. Kalah populer dengan mata pelajaran yang di Unas-kan. Di sinilah perlunya mendesain dan mengarahkan agar pendidikan agama dapat menjadi problem solving bagi realitas yang ada di masyarakat. Sehingga siswa dapat merasakan manfaat dari ajaran yang diperolehnya. Siswa akan dapat berguna bagi orang lain. Mereka dapat merefleksikan pengetahuan kegamaannya dalam menghadapi permasalahan hidupnya.
Guru harus berupaya memahami alam pikiran siswa dan menjadikan agar pelajaran yang disampaikan relevan dengan kehidupan yang dihadapi siswa. Sebab ajaran agama bukanlah bahasa langit yang susah diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari dan bersifat dogmatis. Sebaliknya tujuan dari ajaran agama yang sesungguhnya adalah sebagai cahaya penuntun dan menjadi pegangan hidup saat manusia tersesat dalam kegelapan atau kehilangan sandaran. Agama adalah penuntun menuju keselamatan. Bagaimana mungkin hal tersebut dapat tercapai jika agama hanya menjadi sebuah bahasa langit?
Rasulullah telah mencontohkan bagaimana seharusnya seorang pendidik mampu memahami dan mengerti kondisi dari murid. Bahkan Rasulullah sangat tahu kelebihan dan kekurangan pribadi masing-masing sahabat sehingga tidak heran bila ada beberapa hadits yang ‘berlainan’ tetapi maksudnya sama. Misal, suatu ketika Nabi mengatakan bahwa sebaik-baik amal adalah berkata jujur dan pada kesempatan lain amal terbaik adalah berbakti kepada orang tua. Semua itu beliau sampaikan berdasarkan keadaan pribadi masing-masing sahabat.

Peluang dan Tantangan Pendidikan Agama
Tujuan utama pendidikan agama (baca: Islam) adalah terbentuknya akhlak yang baik. Karena itulah yang menjadi muara dari ajaran Islam. Dan Rasulullah pun diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia. Dengan demikian peri-hidup Rasulullah adalah refleksi dari kesempurnaan akhlak, dan itu bisa ditelusuri melalui Al Quran dan Hadits. Akhlak sendiri merupakan perilaku yang secara konsisten dilakukan sehingga menjadi kebiasaan. Dan ketika diberi suatu stimulan yang sesuai maka perilaku tersebut akan muncul tanpa melalui pemikiran (spontan).
Globalisasi dengan segala bentuknya di satu sisi membuat manusia semakin jauh dari sentuhan agama (sekuler). Namun pada sisi lain tampaknya juga membuat manusia semakin sadar akan pentingnya peran agama dalam kehidupan mereka. Tidak heran bila kemudian banyak orang yang dengan gigih dan kuat memegang prinsip keberagamaan mereka. Tidak lagi takut untuk menunjukkan identitas keagamaannya kepada orang lain. Bahkan mereka memiliki semangat (ghirah) untuk menyebarluaskan nilai-nilai agama kepada masyarakat luas.
Banyak orang kemudian lebih selektif dalam menyekolahkan putera-puteri mereka dan ada sebuah trend dengan menitikberatkan pada sekolah yang memiliki keunggulan dalam penanaman nilai agama kepada siswanya. Maka muncullah sekolah-sekolah Islam terpadu yang memberi porsi lebih untuk kegiatan agama. Sebetulnya kondisi tersebut dapat ditangkap menjadi sebuah peluang untuk lebih mengembangkan pendidikan agama di sekolah negeri sekalipun. Terbatasnya jam pelajaran agama bukanlah satu kendala untuk mengembangkan dan memperbaiki pembelajaran agama di sekolah. Toh, peluang untuk berinovasi dalam proses pembelajaran juga masih sangat terbuka.
Sekarang di banyak masjid telah ada kegiatan taman pendidikan Al Quran (TPA) yang dilaksanakan secara swadaya oleh masyarakat. Hal tersebut dapat dioptimalkan oleh guru agama untuk meningkatkan kemampuan siswa terutama dalam bidang baca tulis Al Quran. Guru dapat ikut serta dalam mengontrol keaktifan siswa, karena umumnya guru lebih disegani. Selain itu juga dapat mengamati kemajuan mereka dalam mengikuti kegiatan TPA.
Namun kita juga tidak bisa menutup mata, televisi merupakan tantangan yang sulit untuk diatasi. Berbagai tontonan yang bertentangan dengan ajaran agama secara gratis dan mudah dapat dilihat. Belum lagi tayangan-tayangan yang lebih banyak mengajari anak untuk bersikap konsumtif dan gaya hidup yang serba luks telah membuai dan menjauhkan mereka dari realitas kehidupan yang sedang dijalani. Tidak jarang anak menjadi kurang peka jiwa sosialnya. Itu semua menjadi peluang sekaligus tantangan bagi pendidikan agama untuk bisa membangun kembali karakter bangsa yang sudah mulai luntur.

Menyongsong Masa Depan yang Lebih Bermartabat
Kita turut miris, dalam hal-hal yang negatif Indonesia ternyata berada di peringkat atas dunia. Sebagai negara paling korup, negara dengan kualitas pendidikan rendah, negara dengan tingkat pembalakan hutan yang parah dan banyak lagi. Cukup sudah berbagai julukan itu semestinya membuat semangat kita terbakar untuk turut serta mengubah citra buruk Indonesia di dunia internasional. Kita ingin bangsa ini disegani bangsa lain dan lebih bermartabat.
Tantangan yang terbentang bukanlah semakin ringan, melainkan justru kian beragam dan berat. Untuk itulah sejak dini perlu dipersiapkan generasi penerus bangsa yang memiliki kemampuan kualitas mumpuni. Bangsa ini butuh sumber daya manusia yang unggul dalam kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta memiliki moral yang bagus. Pendidikan agama sangat penting untuk berperan serta dalam membekali tunas bangsa agar tidak hanya mampu mengembangkan kreatifitas intelektualnya namun juga memiliki daya tahan mental-spiritual dalam menghadapi kemajuan zaman yang berpotensi menjauhkan manusia dari nilai-nilai agama.
Pendidikan agama diharapkan menjadi embun penyejuk di tengah kegersangan jiwa. Menjadi penerang di tengah kegelapan hati. Menjadi penuntun bagi banyak orang yang telah kehilangan jati dirinya. Sehingga kita akan bisa melihat kembali Indosesia yang dikenal sebagai bangsa yang ramah, berjiwa sosial tinggi dan menjunjung tinggi nilai moral dalam segala aspek kehidupannya. Semoga!

Eko Triyanto
Staff Pendidik SD Muhammadiyah Suronandan
Minggir Sleman Yogyakarta

Semua Orang Memiliki Potensi untuk Berprestasi

(Belajar dari Kisah Masathosi Koshiba-Peraih Nobel Fisika tahun 2002)

Pada dasarnya setiap orang memiliki potensi yang bisa dikembangkan guna mencapai prestasi. Hanya saja perlu adanya usaha-usaha untuk memaksimalkan potensi tersebut. Termasuk rangsangan dari lingkungan sekitar guna membangkitkan motivasi seseorang untuk melejitkan potensinya. Dalam dunia pendidikan sering kita menemui siswa yang menurut penilaian subyektifitas kita dianggap sebagai anak yang ‘bodoh’, karena prestasi akademiknya jeblok atau di bawah rata-rata teman lain. Tetapi bernarkah siswa itu memang ‘bodoh’??
Di sinilah seorang guru harus berperan lebih, bukan saja sebatas menyampaikan materi pelajaran namun juga harus jeli mengamati peserta didik. Seorang guru semestinya mampu menjadi konselor sekaligus motivator kepada siswa tersebut agar dapat meningkatkan prestasinya. Karena boleh jadi ‘kebodohan’ itu disebabkan kurangnya motivasi untuk mengembangkan potensi yang dimiliki atau memang karena faktor lain (sosial-psikologis) yang membuat potensi anak sulit berkembang.
Kita bisa belajar dari kisah Masathosi Kosiba, seorang ahli fisika yang berhasil meraih nobel pada tahun 2002. Pria yang lahir di kota Toyohashi, Jepang, pada tanggal 19 September 1926 itu semasa sekolah dianggap sebagai anak yang ‘bodoh’ karena nilai mata pelajaran matematika dan fisikanya jelek. Bahkan ada seorang gurunya yang menganggap Kosiba tidak akan mungkin bisa memahami fisika. Tetapi anggapan itu justru menumbuhkan semangat luar biasa dalam diri Kosiba untuk membuktikan bahwa ia mampu.
Sejak remaja sebetulnya ia bercita-cita bergabung di sekolah militer atau menjadi seorang musisi, sebab ia memang gemar mendengarkan musik. Kira-kira sebulan sebelum ujian militer ia terserang penyakit polio yang memaksanya untuk beristirahat. Dalam masa penyembuhan itu, seorang gurunya sempat memberikan buku yang berisi ide-ide fisikawan Albert Einstein, sehingga mendorongnya menyenangi fisika.
Ia kemudian mendaftar di University of Tokyo memilih jurusan fisika, tetapi sayang dia gagal. Kosiba tak pernah mneyerah, ia terus berusaha sampai akhirnya ia lulus ujian dan diterima. Kosiba bukanlah anak orang kaya, sehingga semasa kuliah dia harus berusaha mencari biaya untuk dirinya dan membantu keluarganya. Ia kemudian bekerja sambil menyelesaikan kuliah. Karena kesibukkannya kadang dalam satu pekan dia hanya masuk kuliah satu kali. Dengan kondisi seperti itu ada yang mengatakan dia tidak akan mungkin lulus. Namun nyatanya dia mampu lulus pada 1951.
Kosiba kemudian meneruskan belajar di Rochester University, Amerika Serikat dengan berbekal surat rekomendasi dari dosennya di Tokyo University yang secara jujur menyatakan: ‘His results are not good, but he’s not that stupid.’ (hasil pendidikan selama kuliah tidaklah bagus, tapi ia bukan seorang yang bodoh). Akhirnya ia bisa diterima di University of Rochester dan empat tahun kemudian Kosiba berhasil mendapatkan gelar Ph.D!
Setelah beberapa tahun di Amerika ia kemudian kembali ke Jepang dan mengajar di almamaternya. Saat bekerja di almameternya inilah Kosiba merancang dan membuat detektor Kamioka NDE yakni alat yang secara sederhana merupakan pendeteksi neutrino matahari. Kamioka adalah nama sebuah tambang dan NDE kependekkan dari Nucleon Decay Experiment (eksperimen untuk mengukur peluruhan nukleon). Kosiba juga berhasil mengembangkan detektor Super Kamioka NDE yakni tipe detektor yang sama, namun memiliki sensitifitas cahaya yang lebih baik dan digunakan dalam pengamatan neutrino matahari.
Kosiba dan timnya terus mengadakan berbagai percobaan sampai akhirnya berhasil membuktikan adanya partikel elementer yang disebut sebagai neutrino. Dari hasil pengamatan itu mendukung pikiran teoritis bahwa ledakan supernova dipicu oleh kegagalan gravitasi. Hasil penelitian tersebut mendorong lahirnya bidang penelitian baru dalam astrofisika, yakni astronomi neutrino.
Demikianlah, Masathosi Kosiba yang semula dicap sebagai anak ‘bodoh’, dengan usaha dan kerja keras akhirnya berhasil menyabet nobel, sebuah hadiah prestisius bagi para ilmuwan. Mungkin memang benar kata-kata penemu legendaris Thomas Alva Edison, bahwa keberhasilan itu ditentukan oleh 1% bakat dan 99% kerja keras.


Eko Triyanto
Guru SD Muhammadiyah Plembon
Cabang Dinas Kec. Minggir
Kabupaten Sleman

Ramadhan Terakhir


1.
Tak terasa waktu bergulir begitu cepat. Tanpa memperdulikan aku yang makin larut dalam kekalutan. Rasanya baru kemarin aku datang ke sini. Masih terbayang hari-hari pertamaku di Jogja yang kuhabiskan dengan isak tangis, tanpa ada yang mau mengerti kecuali bantal guling yang setia menemaniku. Rasanya baru kemarin ibuku berpesan agar aku aktif ikut berbagai kegiatan selama di Jogja. Ya, rasanya semua itu baru terjadi kemarin. Masih kuingat betul !
Senja telah mendekat, namun perempuan itu masih asyik merangkai ingatannya, mencoba menghadirkan masa lalu, meski sebentar lagi harus dikubur. Sesekali disibakkanya, beberapa helai rambut yang menutupi kening.
Semua mesti berganti, dan aku selalu berkata pada diriku sendiri bahwa aku bisa, bahwa aku mampu, bahwa aku harus berusaha menatap masa depan, menggenggam cita dan harapan. Dan semua itu pasti akan dapat aku peroleh dengan kerja keras.
Kini perempuan itu tahu, betapa berartinya waktu, dan betapa ruginya orang yang hanya membuangnya percuma, kini ia tahu bahwa dalam hidup ini tidak datang dua kesempatan yang sama.
11.
Sinar jingga di ufuk barat telah sempurna. Kini semua tinggal menantikan malam yang sebentar lagi menjelang. Perempuan itu mencoba bangkit, mengambil air wudhu, bersujud, mencoba melepaskan semua beban yang dipikulnya, ia ingin mengadu pada Kekasih yang tak pernah mengingkarinya. Allah Azza Wa Jalla.
Entah kenapa perempuan itu memang senang mengenang masa lalu, mengenang masa kecil, masa indah pada sebagian perjalanan hidupnya, walaupun sesungguhnya ia tahu, itu hanyalah masa lalu yang tak menugkin terulang lagi.
Terkadang ia ingin sekali menghentikan waktu, namun itu tak mungkin semua memang harus berubah, semua harus berjalan, karena pada perjalan itu sesungguhnya ada pelajaran yang harus diambil manusia.
111.
Hari ini bulan Ramadhan, bulan yang penuh kenangan suka dan duka. Ia mencoba mengisinya untuk mendekatkan diri pada-Nya. Karena ia yakin bahwa hanya Dia-lah yang mampu memberi ketenangan hidup. Hanya kepada-Nya lah hidup ini pantas disandarkan.
1V.
Malam hening. Sepi menggelayuti ruang hati siapa saja yang mencoba sadar pada malam itu. Entah malam keberapa di Bulan Ramadhan. Sehabis tahajjud perempuan itu, lelap bertafakur, merenungi kembali perjalan yang telah berhasil ditempuhnya. Ia berdo’a agar pada sisi perjalannnya nanti Tuhan memberinya jalan yang lapang dan lurus.
V.
Seperti roda harus berputar. Seperti matahari harus beredar. Waktu pun terus bergulir melibas siapa saja yang coba menentangnya. Cepat langkah waktu. Lebaran telah berakhir, sore hari, perempuan itu telah bersiap diri, ia tampak anggun mengenakan jins biru yang dipadu kemeja coklat bermotif kotak-kotak. Perlahan ia meninggalkan sebuah desa yang banyak memberinnya kenangan suka dan duka. Di sana ia pernah menemukan sahabat terbaiknya. Di sana ia telah menemukan dirinya. Di sana pula sahabat-sahabatnya kini ia tinggalkan. Sahabat yang telah banyak menyusahkannya, walau kadang juga memaksanya tersenyum kecil.
V1.
Sekali lagi perempuan itu mengedarkan pandang. Mencoba meneliti setiap sudut yang dapat dilihatnya. Ia ingin mengabadikannya sebagai sebuah kenangan. Perlahan bus yang ditumpangi beranjak. Diiringi gerimis yang menitik pelan. Menambah kesyahduan perpisahan. Ditatapnya lambaian tangan dari balik kaca berkabut. “aku tak akan melupakan kalian.” Gumamnya lirih.
Bus terus berjalan, membawanya kepada kesunyian abadi. Sesekali dipandanginya rembulan yang kini mulai bersinar di balik awan. Tanpa sadar butiran kecil menetes dari kedua sudut matanya. Ia coba menghapus dengan sapu tangan. Namun ada yang tak mampu ia hapus. Kenangan yang terlanjur dipahatnya. Dalam-dalam.
Allah selalu membersamaimu….

PAMRIH

Rame ing gawe sepi ing pamrih. Begitu filosofi orang Jawa yang sarat makna. Artinya dalam berbuat hendaknya lebih mengedepankan karya maksimal tanpa terpengaruh imbalan yang akan diterima. Menunaikan kewajiban tanpa terpaku dan terpengaruh pada hak yang akan diperoleh. Dalam konteks kebangsaan sering kita dengar ungkapan, ‘Tanyakan apa yang telah kau berikan pada negerimu jangan kau tanya apa yang telah kau peroleh darinya’.
Pamrih, adalah suatu yang lumrah sebagai motivasi membangkitkan gairah dalam bekerja/berkarya dan beramal. Tetapi bisa juga menjadi sesuatu yang tidak lumrah jika salah dalam penerapannya. Hampir semua aktifitas yang dilakukan manusia sebenarnya mengandung pamrih. Apapun itu. Bisa berupa materi dan non-materi. Lihatlah orang yang lalu lalang di jalan-jalan, kemana mereka hendak pergi? Tentu mereka ingin mencari pemenuhan terhadap kebutuhan dan keperluan masing-masing. Semuanya punya pamrih.
Dalam ibadah pun tidak luput dari adanya pamrih. Meskipun kita telah memproklamirkan diri untuk menyerahkan hidup, mati dan segala amal ibadah hanya untuk Allah semata. Coba kita tanya diri kita masing-masing, untuk apa sebenarnya kita beramal shaleh. Untuk apa kita sholat, zakat, shadaqah, berdakwah dan berbuat baik pada orang lain. Mungkin akan muncul beragam jawaban. Namun secara umum orang beramal shaleh dengan pamrih tertentu. Entah mencari pahala agar bisa masuk surga dan terhindar dari neraka atau sekedar menggugurkan kewajiban. Semua itu masih dianggap wajar karena memang baru demikian tingkatan kita.
Tidak demikian halnya dengan sufi wanita terkenal, Rabi’ah al-Adawiyah. Ia beramal bukan mencari pahala melainkan mencari Sang Pemberi Pahala itu sendiri yakni Allah. Ia justru berharap surga akan menolak dirinya jika ibadah yang dilakukan sekedar ingin dapat masuk surga. Sebaliknya ia juga rela dimasukkan ke neraka bila ibadahnya hanya karena takut neraka.
Memang adakalanya pamrih menjadi sesuatu yang tidak lumrah. Tidak pantas. Semasa Rasulullah Saw hijrah ada seorang sahabat yang ingin ikut berhijrah. Ia seperti sahabat pada umumnya pun berhijrah dengan harapan dan pamrih. Bedanya ia punya pamrih yang terlalu remeh. Jika orang lain hijrah karena mengharap ridha Allah, ia justru berhijrah karena harta dan wanita. Kemudian Nabi mengingatkan, “Setiap amal perbuatan ditinjau dari niatnya, dan setiap orang berbuat terserah pada tujuannya, maka barangsiapa berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, berarti akan memperoleh keridhaan Allah dan Rasul-Nya (pahala hijrah), dan barangsiapa berhijrah dengan tujuan menghimpun harta kekayaan dunia aatau mengawini seorang wanita yang ia sukai maka sia-sia hijrahnya (tidak berpahala) karena hanya memperoleh harta dan wanita yang dituju.” (HR. Bukhari-Muslim).
Pamrih bisa menjadi perangkap syaitan untuk menghancurkan amal yang telah kita lakukan. Yakni bila kita beribadah dengan pamrih sekedar mendapat keuntungan materi-duniawi, pujian, kehormatan dan sanjungan dari sesama manusia. Allah memperingatkan, “Dan tidaklah mereka disuruh, kecuali supaya menyembah Allah, serta memurnikan keikhlasan agama bagi-Nya (mengharap keridahaan Allah).” (Al-Bayyinah: 5)
Pada masa menjelang pemilihan kepala daerah (Pilkada) secara langsung seperti saat ini (terutama saat kampanye) akan banyak kita jumpai berbagai kegiatan yang digelar untuk rakyat. Banyak bingkisan diobral, banyak bantuan ditawarkan semuanya menghabiskan dana yang tidak sedikit. Alangkah sayangnya jika semua itu dilakukan hanya berorientasi untuk keuntungan materi-duniawi. Berupa kemenangan dalam pemilihan kepala daerah.
Yang pasti, dalam setiap aktifitas yang kita lakukan selalu terselip motif mengharap pamrih. Entah kita sadari atau tidak. Untuk itu kita perlu memilah dan memilih pamrih apa terbaik bagi kita. Tidak lain dan tidak bukan pahala dari Allah dan keridhaan-Nya.


Eko Triyanto
Mahsiswa Komunikasi Penyiaran Islam
Fak. Dakwah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Tangga-Tangga Meraih Keberhasilan

“Tiap-tiap diri itu dibalas sesuai dengan apa yang ia usahakan.” (Thaahaa [20]: 15)

Bekerja untuk kehidupan dunia merupakan salah satu kewajiban setiap muslim setelah melaksanakan ibadah wajib (fardhlu). Islam memerintahkan umatnya untuk selalu mempersiapkan bekal akherat. Tetapi Islam tidak menginginkan hal itu dilakukan secara berlebihan hingga melupakan kebahagiaan hidup di dunia. Maka setiap Muslim dianjurkan agar tekun dan rajin dalam bekerja mencari penghidupan dunia. Keduanya harus berjalan selaras, Islam tidak ingin umatnya berada dalam kemiskinan dan kebodohan dengan dalih mencapai keshalehan individu.
“Dan carilah apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan akhirat), dan janganlah kamu melupakan kebahagiaan dari (kenikmatan) duniawi.” (Al-Qashash [28]: 77)
Bekerja untuk kepentingan dunia dalam pandnagan Islam bisa juga dinilai sebgai ibadah. Kerja yang dimaksud bukanlah dengan sekehendak hati ataupun hanya memburu kesenangan sesaat. Ada adab serta tata cara yang mesti dipatuhi agar hasil kerja yang dilakukan dapat mencapai nilai maksimal dan bermanfaat bukan saja di dunia tetapi juga menjadi amal bagi kehidupan kelak di akherat.
Pertama, mengawali dengan niat yang baik.
Dalam sebuah hadits disebutkan amal itu tergantung pada niatnya. Untuk itu bekerja pun harus dengan niat yang benar, yakni mencari ridha Allah semata. Paling tidak diawali dengan membaca bacaan Basmalah atau membaca do’a. Dalam Al-Qur’an disebutkan, yang artinya, “Dan katakanlah: ‘Ya, Tuhanku, masukakanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong.” (Al-Israa’ [17]: 80)
Kedua, bekerja sesuai dengan bakat dan kemampuan
Allah menciptakan manusia dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Maka manusia diperintahkan untuk saling ta’aruf dan tolong-menolong sesuai peran yang diembannya. Tugas setiap diri adalah mengenali potensi yang dimilikinya untuk kemudian dijadikan modal dalam berusaha. Adakalanya seseorang mempunyai kelebihan fisik (tenaga), tetapi akal dan modal finansialnya terbatas maka ia dapat mengoptimalkan tenaga itu untuk bekerja. Allah Swt. berfirman artinya,
“Katakanlah: ‘Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing. Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya.” (Al-Isra’ [17]: 84)
Ketiga, memilih pekerjaan yang baik dan halal meskipun sulit
Setiap tahun angka pengangguran di negara kita kian membengkak. Sulitnya mencari kerja menyebabkan sebagian dari saudara kita ada yang menempuh cara apapun untuk mendapatkan pekerjaan. Salah satunya dengan praktek KKN dan suap-menyuap yang bukan rahasia lagi.
Tetapi Islam menghendaki agar umatnya tetap selektif dalam mencari pekerjaan meski sulit. Pekerjaan yang baik dan halal lebih disukai meskipun hasilnya sedikit, daripada pekerjaan yang mendatangkan keuntungan banyak tetapi tidak halal. Karena keberkahan rizki yang kita terima tidak terletak pada banyak sedikitnya hasil. Namun terletak pada cara mencari dan untuk apa dipergunakan rizki itu.
Allah berfirman, artinya, “Katakanlah: ‘Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang yang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan.” (Al-Maidah [5]: 100)
Keempat, bekerja dengan sungguh-sungguh
Kesungguhan dan kerja keras sangat diperlukan dalam melakukan suatu pekerjaan. Bahkan dikatakan kesuksesan itu ditentukan oleh 1% bakat dan 99% kerja keras. Dengan kerja keras seseorang tidak akan cepat putus asa apabila gagal. Sebaliknya ia akan tetap bertahan dan mencoba langkah (metode) lain hingga berhasil.
Allah berfirman, artinya, “Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya.” (Al-Hajj [22]: 78)
Kelima, mengoptimalkan potensi diri yang ada
Untuk mengoptimalkan potensi diri diperlukan latihan yang terus-menerus. Karena umumnya seseorang tidak mengetahui seberapa besar potensi yang dimilikinya. Salah satu solusinya ialah dengan tidak takut untuk mencoba dan mencari pengalaman.
Allah berfirman, artinya, “Katakanlah: ‘Hai kaumku, berbuatlah sepenuh kemampuanmu, sesungguhnya aku pun berbuat (pula).” (Al-An’aam [6]: 135)
Keenam, tidak setengah-setengah dalam bekerja
Melaksanakan pekerjaan yang sudah dipilih tidak boleh hanya sekenanya saja. Tetapi harus diusahakan agar mencapai hasil maksimal baik secara kwalitas maupun kwantitas. Karena Allah telah mencontohkan bagaimana Dia menciptakan dunia ini dengan sebaik-baiknya
Allah berfirman, artinya, “Yang membuat sesuatu Dia ciptakan sebaik-baiknya.” (As-Sajdah [32]: 7)
Dalam ayat lain, “Dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu.” (Al-Qashash 28]: 77)
Ketujuh, bekerja dengan efektif
Dalam bekerja unsur efektifitas haruslah menjadi prioritas. Baik mengenai waktu, tenaga maupun pendanaan. Sebab segala sesuatu itu kelak akan dimintai pertanggungjawabannya. Untuk dapat lebih efektif dapat disiasati dengan menyusun rencana kerja yang matang sehingga segala sesuatunya dapat terlaksana dengan lancar.
Allah berfirman yang artinya, “Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna.” (Al-Mukminun [23]: 3)
Kedelapan, melakukan evaluasi
Dalam suatu proses pekerjaan tentu tidak selamanya akan berjalan sesuai rencana yang kita inginkan. Untuk itu kita perlu melakukan evaluasi terhadap hasil dari apa yang telah kita kerjakan maupun apa yang belum bisa kita kerjakan. Agar kita bisa mengetahui faktor-faktor yang menghambat kerja kita. Sehingga kita bisa mencari solusi di masa yang akan datang.
Allah berfirman yang artinya, “Dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.” (Al-Hasyr [59]: 18).
Kesembilan, mengiringi setiap usaha dengan do’a
Bagi seorang muslim doa bukan saja merupakan sebuah permohonan tetapi juga dikatgorikan sebagai ibadah. Mengiringi kerja dengan doa merupakan formula yang efektif karen tanpa pertolongan Allah manusia tidak akan mampu berbuat apa-apa. Kita hanya mampu berusaha sedangkan hasilnya Allah-lah yang menentukan.
“Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina." (Al-Mu’minun [40]: 60)
Itulah sebagian ajaran Islam mengenai etos kerja. Sekarang tinggal bagaimana kita mengaplikasikannya dalam kehidupan kita sehari-hari. Semoga berhasil! Wallahu ‘alam bi ashawab.

Eko Triyanto
Komunikasi Penyiaran Islam
Fakultas Dakwah
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta