Senja di Dermaga
Untuk kesekian senja
Di tepi dermaga ini
Masih saja kumengeja
Menduga makna kata setia
Sementara bahteramu semakin jauh
Diantarai jarak tak tertempuh
Dan bayangmu tenggelam perlahan
Tertelan gelombang samudra.
2003
Petuah Ayah
Menangislah anakku,
Ayah kenal haru rindumu
Terlampau jauh kau tlah berjalan
Mengembarai hidup tanpa tujuan
Satu pintaku
Sebelum kutempuh perjalanan panjang
Jangan kau lupa kitab ditangan
Yang sempat ayah ajarkan
Itu hanya sebuah jalan,
Kemauan hatimulah menentukan
Hitam putih titian yang kau pilih
Anakku, ayah harus pergi
Mengulang tidur tanpa mimpi
Agar kau tahu dunia ini, semu
Dan kau harus menetap disini
Jadi saksi antara hidup dan mati
Kadang tak berarti. 24.MARET.DUA000DUA
Ibu Dan Ilalang
Itukah engkau ibu
Merenungi kisah hujan semalam
Yang tak sempat mengairi
Rekahan kemarau sawah kita
Sementara ilalang kian tegak
Menantang badai
Paras sayu serta alunan do’amu
Mengeraskan kepalaku
Lupa janji bakti yang semestinya aku penuhi.
Tampilkan postingan dengan label PUISI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PUISI. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 09 Mei 2009
Label:
PUISI
rinduku rindu angin
ingin kutulis rindu pada sekelebat
angin
yang menandai hadirnya musim
yang memnggugurkan bougenvile ungu darimu
agar kau tahu sungguh
sulitnya rindu kubunuh
2003
angin
yang menandai hadirnya musim
yang memnggugurkan bougenvile ungu darimu
agar kau tahu sungguh
sulitnya rindu kubunuh
2003
Label:
PUISI
Malam Sehabis Tahajjud
Ada cucuran airmata
Menitik bersama do’a
Yang sengaja kutabur
Dalam kehampaan jiwa
Malam sehabis tahajjud
Kucoba menakar dosa
Yang terlanjur kugambar
Pada perjalanan-perjalananku
Yang tlah berlalu
Malam sehabis tahajjud
Di atas sajadah membasah
Aku gemetar dalam istighfar
Tenggelam dalam dzikir panjang
Biarpun aku yakin itu sia-sia
Sebab keangkuhan terlampau keras
Meski kucobc luluhkan dengan airmata
Hanya saja,
Dibatas keputusasaan
Diujung usia yang menyisa
Aku menggenggam sekeping asa
Untuk menemui-Mu
Suatu saat
Label:
PUISI
Jumat, 02 Januari 2009
Setangkai Mawar, Lilin dan Gelas yang Retak
Barisan kata-kata ini pasti tidak akan pernah mampu membahasakan perasaanku padamu. Tetapi ijinkan aku mencoba mengungkapkan kegalauan hati yang memang sengaja aku jaga. Dari waktu ke waktu.
Dalam sebuah ruang tanpa tirai-tirai pembatas………
Aku melihat setangkai mawar dalam vas………
Indah dan mengagumkan bagi siapapun yang menatap……….
Aku ingat engkau, aku ingat kau begitu suka bunga mawar…………
Lalu tiba-tiba aku ingin menjadi mawar, agar kau tak bosan melihatku………...
Tapi aku gagal!
Aku melangkah ke ruang lain……
Ruang yang diselimuti gelap………
Aku menemukan nyala lilin di atas meja………
Dengan sinar lembut ia menerangi tanpa letih…….
Aku ingat engkau, saat-saat kau begitu mengharapkanku………
Lalu tiba-tiba aku ingin menjadi lilin, agar aku bisa membimbingmu saat gelap……..
Tapi aku tak bisa!
Aku berjalan ke ruang berikutnya……….
Dalam kesenyapan yang teramat………..
Aku melihat benda-benda begitu sempurna………
Seumpama kau memilih mereka pasti kau bahagia………
Wahai engkau yang menghentak-hentak dalam hatiku
Apa yang harus kulakukan saat letih menghampirimu
Sedang tanganku tak kuasa sekedar menyentuhmu
Aku hanya berharap setidaknya aku bisa menjadi gelas……
Gelas yang retak……..
Agar aku bisa menjadi vas untuk mawarmu………..
Menjadi tempat untuk lilinmu………..
Akan kutampung airmatamu saat kau berduka……..
Meskipun aku tak bisa melihatmu saat bahagia………..
Sebuah catatan untuk mengenang 061206
Dalam sebuah ruang tanpa tirai-tirai pembatas………
Aku melihat setangkai mawar dalam vas………
Indah dan mengagumkan bagi siapapun yang menatap……….
Aku ingat engkau, aku ingat kau begitu suka bunga mawar…………
Lalu tiba-tiba aku ingin menjadi mawar, agar kau tak bosan melihatku………...
Tapi aku gagal!
Aku melangkah ke ruang lain……
Ruang yang diselimuti gelap………
Aku menemukan nyala lilin di atas meja………
Dengan sinar lembut ia menerangi tanpa letih…….
Aku ingat engkau, saat-saat kau begitu mengharapkanku………
Lalu tiba-tiba aku ingin menjadi lilin, agar aku bisa membimbingmu saat gelap……..
Tapi aku tak bisa!
Aku berjalan ke ruang berikutnya……….
Dalam kesenyapan yang teramat………..
Aku melihat benda-benda begitu sempurna………
Seumpama kau memilih mereka pasti kau bahagia………
Wahai engkau yang menghentak-hentak dalam hatiku
Apa yang harus kulakukan saat letih menghampirimu
Sedang tanganku tak kuasa sekedar menyentuhmu
Aku hanya berharap setidaknya aku bisa menjadi gelas……
Gelas yang retak……..
Agar aku bisa menjadi vas untuk mawarmu………..
Menjadi tempat untuk lilinmu………..
Akan kutampung airmatamu saat kau berduka……..
Meskipun aku tak bisa melihatmu saat bahagia………..
Sebuah catatan untuk mengenang 061206
Label:
PUISI
Jumat, 21 November 2008
Episode Perpisahan
Episode Perpisahan
Eko Triyanto
Dik.
Tentu kau dengar
Dentum meriam merajam-rajam
Merobek kadamaian yang semestinya kita genggam
Dalam senyap ia memanggilku lirih: Majulah ke garis depan
Dik.
Apakah masih ada yang perlu dikenang
Dari pertemuan-pertemuan kita kemarin
Sebelum semua benar-benar usai
Pada episode perpisahan yang sebentar lagi kita pentaskan
Kukatakan padamu: Sudah saatnya aku pergi
Dik.
Ada yang tersentak di relung dada, bergemuruh
Meluruhkan ketegaran yang ku bangun berabad-abad
Kini ada duka yang entah berapa dalamnya
Kini ada sepi yang tiba-tiba hadir
Terlalu cepat dari yang kita duga
Waktu telah memaksaku berucap: Selamat tinggal
Dik.
Bila saja nanti suatu masa
Ada rindu mengharu biru
Tataplah rembulan
Akan kau rasa sinarnya sayu berkaca-kaca
Di sana ada impian, harapan juga kemenangan abadi
Dik.
Beribu maafku bila nanti
Guratan nasib tak menghendaki, kita bertemu lagi
Sebab kematian yang bagiku seperti awal kehidupan
Selalu lebih dekat dari nadiku
Relakan aku pergi mengulang tidur tanpa mimpi
Dik.
Maafkan aku, jika saja tak mampu kupersembahkan
Setangkai flamboyan seperti pernah kau pesan
Sekali lagi kukatakan: sudah saatnya aku harus pergi
Menjemput impian, harapan, dan kemenangan
Atau setidaknya menunda sebuah kekalahan.
Nanggulan. Agustus 2003
Eko Triyanto
Dik.
Tentu kau dengar
Dentum meriam merajam-rajam
Merobek kadamaian yang semestinya kita genggam
Dalam senyap ia memanggilku lirih: Majulah ke garis depan
Dik.
Apakah masih ada yang perlu dikenang
Dari pertemuan-pertemuan kita kemarin
Sebelum semua benar-benar usai
Pada episode perpisahan yang sebentar lagi kita pentaskan
Kukatakan padamu: Sudah saatnya aku pergi
Dik.
Ada yang tersentak di relung dada, bergemuruh
Meluruhkan ketegaran yang ku bangun berabad-abad
Kini ada duka yang entah berapa dalamnya
Kini ada sepi yang tiba-tiba hadir
Terlalu cepat dari yang kita duga
Waktu telah memaksaku berucap: Selamat tinggal
Dik.
Bila saja nanti suatu masa
Ada rindu mengharu biru
Tataplah rembulan
Akan kau rasa sinarnya sayu berkaca-kaca
Di sana ada impian, harapan juga kemenangan abadi
Dik.
Beribu maafku bila nanti
Guratan nasib tak menghendaki, kita bertemu lagi
Sebab kematian yang bagiku seperti awal kehidupan
Selalu lebih dekat dari nadiku
Relakan aku pergi mengulang tidur tanpa mimpi
Dik.
Maafkan aku, jika saja tak mampu kupersembahkan
Setangkai flamboyan seperti pernah kau pesan
Sekali lagi kukatakan: sudah saatnya aku harus pergi
Menjemput impian, harapan, dan kemenangan
Atau setidaknya menunda sebuah kekalahan.
Nanggulan. Agustus 2003
Label:
PUISI