Tampilkan postingan dengan label Umum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Umum. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 Mei 2009

Menulis, Mengasah Ketajaman Hati dan Pikiran



“Segala sesuatu awalnya kelihatan berat dan sukar. Wajarlah jika banyak yang gugur di permulaan. Menyerah pada kenyataan. Kecuali orang-orang luar biasa yang memiliki cadangan motivasi lebih.”


agi banyak orang menulis dianggap sebagai suatu perkerjaan yang sulit. Sebagian lagi menganggap remeh. Tidak penting. Padahal bila kita cermati. Mau tidak mau, suka tidak suka, banyak dari kita yang akan selalu berhadapan dengan pekerjaan tulis-menulis. Mulai dari membuat tugas sekolah seperti laporan atau makalah. Hingga tugas akhir, skripsi (S1), Tesis (S2) dan Desertasi (S3) bagi mahasiswa.
Selamat Datang di Dunia Jurnalistik
Harus kita akui, tradisi menulis kalah populer dibanding dengan tradisi berkomunikasi dengan lisan (bicara). Mungkin kita akan betah mengobrol selama berjam-jam. Tetapi ketika disodori pena dan selembar kertas untuk menulis, kita merasa kesulitan. Bingung. Mengapa? Bukankah apa yang kita omongkan bisa kita ubah menjadi bentuk tulisan?
Yang Penting Motivasi!
Jawabnya tentu beragam. Memang dapat kita katakan bahasa lisan sangat berbeda dengan bahasa tulis. Tapi ini kita abaikan dulu.
“Motivasi adalah proses aktualisasi sumber penggerak dan pendorong tingkah laku individu memenuhi kebutuhan untuk mencapai tujuan tertentu.” Demikian definisi motivasi menurut ilmu psikologi.
Sebelum menulis coba tentukan dulu apa alasan yang mendasari kita membuat tulisan. (Alm) Mohammad Diponegoro memberikan beberapa contoh yang biasa menjadi alasan seseorang untuk menulis. Antara lain, mencari ketenaran (karena namanya akan dikenal) dan sebagai jalan mencari nafkah.
Di Indonesia mungkin menulis memang belum bisa dijadikan sandaran hidup. Karena honor yang diterima penulis masih relatif kecil. Minat baca di negeri kita yang rendah menjadi salah satu penyebabnya. Berbeda dengan di luar negeri. Sekedar contoh—untuk lebih memotivasi—kamu pasti kenal dengan JK. Rowling penulis serial Harry Potter yang kesohor itu. Ditaksir kekayaan yang dimilkinya melebihi kekayaan Ratu Elizabeth!
Menulis Itu Bakat?
Selamat!! Kalau kamu berpikiran demikian berarti kamu juga berbakat. Bukankah sejak kelas TK atau kelas satu SD kamu sudah pandai menulis? Mula-mula kita hanya mengenal satu dua huruf dan kesulitan untuk merangkainya. Tapi sekarang lihatlah betapa pintarnya kita menyusun kalimat-kalimat yang panjang. Apalagi saat menulis surat atau sekedar curhat ma someone (Maklum jatuh cinta!).
Thomas Alva Edison bilang, keberhasilan ditentukan 1% bakat dan 99% kerja keras. Tidak heran bila Edison yang dianggap dungu dan sempat dikeluarkan dari sekolah pada akhirnya mampu mengejutkan dunia dengan berbagai penemuannya.
Menulispun demikian. Setiap orang mempunyai kesempatan yang sama. Tinggal bagaimana ia mengembangkan dirinya untuk menjadi penulis. Yakinlah kamu pasti… BISA!
Menulis Itu Gampang-Gampang Susah
Arswendo Atmowiloto yang sempat bikin heboh dengan hasil surveinya—karena menempatkan dirinya sebagai tokoh paling digemari di atas Nabi Muhammad Saw.—mengatakan bahwa: Menulis itu gampang.
Karuan saja pernyataan itu banyak mendapat protes. Toh ia memang seorang penulis yang tentu sudah piawai dalam membuat sebuah tulisan. Lha kita? Hee... Tapi untuk menarik minat calon penulis pernyataan di atas memang ada benarnya.. Coba pikir, dibilang gampang saja masih banyak yang enggan menulis apalagi dibilang susah. Jangan-jangan tidak ada yang minat.
Menulis memang pekerjaan yang gampang-gampang susah. Pada awalnya mungkin kita kesulitan karena bahasa tulis berbeda dengan bahasa lisan. Dalam bahasa lisan kita hanya berpikir bagaimana menyampaikan informasi (pesan) yang kita punya agar orang lain faham. Bahasa yang digunakan pun sangat bebas dan bervariasi tanpa menghiraukan aturan yang ada.
Sedangkan dalam bahasa tulis. Kita dituntut menggunakan tanda baca yang pas dan pemilihan kata (diksi) yang tepat. Agar pesan yang kita tulis dapat dipahami secara mudah dan jelas.
“Menulis berbeda dengan berbicara. Agar efektif, menulis menuntut si penulis mengungkapkan gagasannya secara tertib dan tertata,” kata Mas Hernowo, seorang penulis sekaligus editor Grup Mizan.
Tetapi lambat laun. Tanpa kita sadari kemampuan ini akan terasah bila kita membiasakan diri untuk menulis. Sambil membaca hasil tulisan kita berulang-ulang. Lalu bandingkan dengan tulisan hasil karya orang lain yang dianggap lebih baik.
Menulis Sambil Berenang Bisakah?
Ada pepatah mengatakan: Sambil menyelam minum air. Tapi mungkinkah berenang sambil menulis? Entahlah. Tapi maksud saya bukan begitu. Ahmad Munif, seorang penulis novel yang cukup produktif (ehm..ehm..beliau juga dosen saya lho) mengibaratkan aktifitas menulis seperti berenang.
Seorang yang baru belajar renang boleh saja menguasai segala macam teori tentang renang. Tetapi teori yang dikuasainya itu tidak akan berguna bila ia tidak pernah mecoba terjun ke kolam renang. Jadi syarat utama menjadi penulis ialah praktek membuat tulisan. Sekali lagi PRAKTEK. U understand?
Kebiasaan bagus yang bisa kita lakukan untuk mempermudah meningkatkan kemampuan menulis yakni membuat Catatan Harian. Dalam buku Cathar itu kita bisa mengekspresikan segala apa yang kita rasakan setiap hari dalam bentuk tulisan.
Jangan ragu lagi. Tulis…tulis…dan tulis…Nah…kamu sudah jadi penulis!
Melatih Ketajaman Hati dan Pikiran
Afwan. Sorry. bagi kamu-kamu yang punya prinsip ‘cuex is the best’ saya persilakan untuk bilang ‘Selamat Berpisah’ dengan dunia tulis menulis. Dunia penuh warna, tantangan, dan rahasia-rahasia mengejutkan.
Penulis adalah seorang intelektual yang peduli dengan lingkungan sekitarnya. Dengan realitas yang ada. Ia tergelitik dan tergerak bila melihat fenomena yang menyimpang dari kaidah dan tata nilai yang ada. Ia ingin agar orang lain juga tahu penyimpangan tersebut. Sehingga mampu menangkalnya.
Tidak pelak untuk menjadi penulis harus siap membuka pancaindera dengan selebar-lebarnya. Mengamati peristiwa-peristiwa yang ada. Lalu menakarnya dengan hati. Kira-kira itu sesuai dengan norma yang ada gak ya? Sudah itu putarlah akal untuk mencari solusi yang mungkin bisa diterapkan. Tuangkan ide itu dalam tulisan agar orang lain bisa mengaksesnya.
Di sinilah hati akan semakin sensitif melihat realitas. ‘You don’t care?’ but I not. Pikiran menjadi lebih aktif untuk berpikir. Bukan saja bagi diri sendiri. tetapi juga bagi orang lain. Ingat: Bukan hanya untuk diri sendiri. Sayang kan bila kapasitas kecerdasan yang kita miliki hanya dinikmati sendiri. Egois banget!
Kata Rasul, “Sebaik-baik kamu adalah orang yang bisa memberi manfaat kepada orang lain.”

Menjelajah Dunia Ide
Tulisan hakikatnya merupakan ide yang dibahasakan lewat tulisan. Sebagian lagi berupa fakta yang sistematika penyajianya menurut selera penulis. Di sini juga menuntut adanya ide.
Yang bagus jika ide itu belum pernah dikemukakan orang lain. Cerdas. Tepat sasaran dan mampu ‘menggerakkan’. Hingga tulisan terasa lebih hidup.
Artinya penulis mesti punya stok ide yang memadai. Atau setidaknya punya cadangan biji-biji informasi yang bisa disemai menjadi ide. Konsekuensinya, orang yang ingin menulis mesti rajin-rajin mengumpulkan informasi dengan cara melihat, mengamati dan yang penting membaca! ‘Iqra’’, kata Jibril.
Membaca menjadi hal wajib bagi seorang yang ingin menjadi penulis. Ibarat penampungan air. Sebelum mengalirkan air mesti diisi dulu. Tetapi pengisiannya pun harus selektif. Agar yang keluar nantinya juga sesuatu yang bermanfaat. (Harap tahu aja sekarang banyak buku ‘berbau Islam’ dan buku-buku best seller yang bisa meracuni aqidah kita. Misalnya?)
BTW. Perbanyaklah membaca. Dan temukan ide-ide cemerlang. Ingat tulisanmu bisa mengubah dunia.

CopryghtEkoSambirejo06 Agustus 2005

Disampaikan Pada:
Ekstra Jurnalistik SMP N 4 Prambanan
Oleh:: Eko Triyanto
Mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam
UIN Sunan Kalijaga Pemimpin Redaksi Al_Kahfi Newsletter

URGENSI PENDIDIKAN AGAMA

Oleh: Eko Triyanto

Bangsa Indonesia telah lama dikenal sebagai bangsa yang memiliki kebudayaan dan perikehidupan yang luhur. Bangsa yang ramah, bangsa yang santun, bangsa yang mampu menghormati perbedaan, suka bergotong-royong dan segudang sanjungan lainnya. Tentu semua pujian itu berangkat dari realitas kehidupan bangsa ini yang memang di masa lalu sangat menghargai moral dan nilai-nilai kemanusiaan.
Sayangnya arus kebudayaan asing yang terus membanjiri bangsa ini mengikis nilai-nilai luhur itu. Kapitalisme dengan segala bentuk dan ragamnya telah mengajarkan kepada generasi penerus bangsa ini budaya hidup yang jauh dari norma-norma sosial dan agama. Sekarang, lambat tapi pasti sikap hidup yang permisif, hedonis, individualis, dan materialis menjangkiti masyarakat. Bukan tidak mungkin hal tersebut kian membunuh karakter bangsa ini sebagai bangsa timur yang dikenal sangat menjunjung nilai moral.

Tinjauan Tentang SQ
Sejak diketahui bahwa SQ (spiritual quotient) atau kecerdasan spiritual sangat berperan signifikan dalam mendorong prestasi dan karir. Orang yang memiliki kecerdasan spiritual tinggi berpotensi memiliki karakter-karakter unggul yang akan memudahkan dalam proses interaksi dengan orang lain maupun lingkungan kerja. Kecerdasan spiritual akan memunculkan sikap-sikap positif seperti kejujuran, kedisiplinan, loyalitas, pantang menyerah dan sebagainya.
Banyak orang kemudian sadar bahwa ternyata nilai-nilai spiritual yang dalam hal ini dapat diwakili oleh peran agama sangat penting untuk ditanamkan kepada anak didik. Kecerdasan spiritual banyak menjadi tumpuan memperbaiki karakter seseorang untuk membuat kemajuan yang berarti. Meskipun dalam pelaksanaannya ternyata hasil yang dicapai belum sesuai harapan. Sekian lama kemerosotan moral belum juga mampu dibendung meskipun nilai-nilai agama telah diajarkan di sekolah dari tingkat Sekolah Dasar hingga Perguruan Tinggi. Bahkan ada kecenderungan kegersangan jiwa dan keringnya nilai spiritual kian meningkat.
Tentu semua itu bukan semata kesalahan dari pelaksanaan pendidikan agama di sekolah. Sebab faktanya, banyak faktor lain yang turut serta dalam mempengaruhi kehidupan beragama seseorang. Lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat dan lingkungan pergaulan ternyata memiliki porsi yang lebih kuat untuk memberi pengaruh. Maka semestinya dalam pelaksanaan pendidikan agama harus melibatkan semua pihak dan menjadi tanggung jawab bersama. Peran serta orang tua sangat dibutuhkan untuk ikut serta melakukan kontrol terhadap perilaku anak selama di lingkungan keluarga. Dengan demikian proses pendidikan akan terlaksana secara berkesinambungan dan lebih efektif guna mencapai hasil yang diinginkan.

Menanamkan Nilai Moral
Prof Zakiah Daradjat (1978) menyatakan bahwa moral bukanlah suatu pelajaran yang dapat dicapai dengan mempelajari saja, tanpa membiasakan hidup bermoral dari sejak kecil. Moral itu tumbuh dari tindakan kepada pengertian dan tidak sebaliknya.
Dengan demikian diharapkan pendidikan agama bukanlah sekedar pengalihan pengetahuan keagamaan (transfer of religion knowledge) dari guru ke siswa. Namun hendaknya mampu mengarahkan dan membina agar perilaku siswa dapat sesuai dengan tuntunan agama. Lingkungan sekolah harus menjadi representasi dari kehidupan keagamaan agar siswa dapat menemukan model lingkungan yang sesuai dengan ajaran agama. Proses pendidikan agama itu dapat berlangsung sepanjang siswa masih di lingkungan sekolah. Bukan sebatas saat pelajaran agama saja. Dengan demikian perlu kerjasama antara semua warga sekolah untuk dapat menciptakannya.
Pendidikan itu bisa dimulai dari hal-hal kecil, karena sesungguhnya Islam mengatur segala persoalan dalam kehidupan di dunia ini. Mulai dari sikap saling menghormati, kasih sayang, perilaku yang baik terhadap teman, adab makan-minum, adab berbicara kepada orang lain dan masih banyak lagi. Dan jangan dilupakan bahwa kedisiplinan, menepati janji, berbuat jujur, saling menolong dan perbuatan terpuji lainnya juga merupakan ajaran agama yang sangat penting untuk diajarkan dan dilaksanakan.
Terkadang pendidikan agama menjadi kurang menarik karena dianggap belum menjadi kebutuhan yang mendesak. Kalah populer dengan mata pelajaran yang di Unas-kan. Di sinilah perlunya mendesain dan mengarahkan agar pendidikan agama dapat menjadi problem solving bagi realitas yang ada di masyarakat. Sehingga siswa dapat merasakan manfaat dari ajaran yang diperolehnya. Siswa akan dapat berguna bagi orang lain. Mereka dapat merefleksikan pengetahuan kegamaannya dalam menghadapi permasalahan hidupnya.
Guru harus berupaya memahami alam pikiran siswa dan menjadikan agar pelajaran yang disampaikan relevan dengan kehidupan yang dihadapi siswa. Sebab ajaran agama bukanlah bahasa langit yang susah diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari dan bersifat dogmatis. Sebaliknya tujuan dari ajaran agama yang sesungguhnya adalah sebagai cahaya penuntun dan menjadi pegangan hidup saat manusia tersesat dalam kegelapan atau kehilangan sandaran. Agama adalah penuntun menuju keselamatan. Bagaimana mungkin hal tersebut dapat tercapai jika agama hanya menjadi sebuah bahasa langit?
Rasulullah telah mencontohkan bagaimana seharusnya seorang pendidik mampu memahami dan mengerti kondisi dari murid. Bahkan Rasulullah sangat tahu kelebihan dan kekurangan pribadi masing-masing sahabat sehingga tidak heran bila ada beberapa hadits yang ‘berlainan’ tetapi maksudnya sama. Misal, suatu ketika Nabi mengatakan bahwa sebaik-baik amal adalah berkata jujur dan pada kesempatan lain amal terbaik adalah berbakti kepada orang tua. Semua itu beliau sampaikan berdasarkan keadaan pribadi masing-masing sahabat.

Peluang dan Tantangan Pendidikan Agama
Tujuan utama pendidikan agama (baca: Islam) adalah terbentuknya akhlak yang baik. Karena itulah yang menjadi muara dari ajaran Islam. Dan Rasulullah pun diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia. Dengan demikian peri-hidup Rasulullah adalah refleksi dari kesempurnaan akhlak, dan itu bisa ditelusuri melalui Al Quran dan Hadits. Akhlak sendiri merupakan perilaku yang secara konsisten dilakukan sehingga menjadi kebiasaan. Dan ketika diberi suatu stimulan yang sesuai maka perilaku tersebut akan muncul tanpa melalui pemikiran (spontan).
Globalisasi dengan segala bentuknya di satu sisi membuat manusia semakin jauh dari sentuhan agama (sekuler). Namun pada sisi lain tampaknya juga membuat manusia semakin sadar akan pentingnya peran agama dalam kehidupan mereka. Tidak heran bila kemudian banyak orang yang dengan gigih dan kuat memegang prinsip keberagamaan mereka. Tidak lagi takut untuk menunjukkan identitas keagamaannya kepada orang lain. Bahkan mereka memiliki semangat (ghirah) untuk menyebarluaskan nilai-nilai agama kepada masyarakat luas.
Banyak orang kemudian lebih selektif dalam menyekolahkan putera-puteri mereka dan ada sebuah trend dengan menitikberatkan pada sekolah yang memiliki keunggulan dalam penanaman nilai agama kepada siswanya. Maka muncullah sekolah-sekolah Islam terpadu yang memberi porsi lebih untuk kegiatan agama. Sebetulnya kondisi tersebut dapat ditangkap menjadi sebuah peluang untuk lebih mengembangkan pendidikan agama di sekolah negeri sekalipun. Terbatasnya jam pelajaran agama bukanlah satu kendala untuk mengembangkan dan memperbaiki pembelajaran agama di sekolah. Toh, peluang untuk berinovasi dalam proses pembelajaran juga masih sangat terbuka.
Sekarang di banyak masjid telah ada kegiatan taman pendidikan Al Quran (TPA) yang dilaksanakan secara swadaya oleh masyarakat. Hal tersebut dapat dioptimalkan oleh guru agama untuk meningkatkan kemampuan siswa terutama dalam bidang baca tulis Al Quran. Guru dapat ikut serta dalam mengontrol keaktifan siswa, karena umumnya guru lebih disegani. Selain itu juga dapat mengamati kemajuan mereka dalam mengikuti kegiatan TPA.
Namun kita juga tidak bisa menutup mata, televisi merupakan tantangan yang sulit untuk diatasi. Berbagai tontonan yang bertentangan dengan ajaran agama secara gratis dan mudah dapat dilihat. Belum lagi tayangan-tayangan yang lebih banyak mengajari anak untuk bersikap konsumtif dan gaya hidup yang serba luks telah membuai dan menjauhkan mereka dari realitas kehidupan yang sedang dijalani. Tidak jarang anak menjadi kurang peka jiwa sosialnya. Itu semua menjadi peluang sekaligus tantangan bagi pendidikan agama untuk bisa membangun kembali karakter bangsa yang sudah mulai luntur.

Menyongsong Masa Depan yang Lebih Bermartabat
Kita turut miris, dalam hal-hal yang negatif Indonesia ternyata berada di peringkat atas dunia. Sebagai negara paling korup, negara dengan kualitas pendidikan rendah, negara dengan tingkat pembalakan hutan yang parah dan banyak lagi. Cukup sudah berbagai julukan itu semestinya membuat semangat kita terbakar untuk turut serta mengubah citra buruk Indonesia di dunia internasional. Kita ingin bangsa ini disegani bangsa lain dan lebih bermartabat.
Tantangan yang terbentang bukanlah semakin ringan, melainkan justru kian beragam dan berat. Untuk itulah sejak dini perlu dipersiapkan generasi penerus bangsa yang memiliki kemampuan kualitas mumpuni. Bangsa ini butuh sumber daya manusia yang unggul dalam kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta memiliki moral yang bagus. Pendidikan agama sangat penting untuk berperan serta dalam membekali tunas bangsa agar tidak hanya mampu mengembangkan kreatifitas intelektualnya namun juga memiliki daya tahan mental-spiritual dalam menghadapi kemajuan zaman yang berpotensi menjauhkan manusia dari nilai-nilai agama.
Pendidikan agama diharapkan menjadi embun penyejuk di tengah kegersangan jiwa. Menjadi penerang di tengah kegelapan hati. Menjadi penuntun bagi banyak orang yang telah kehilangan jati dirinya. Sehingga kita akan bisa melihat kembali Indosesia yang dikenal sebagai bangsa yang ramah, berjiwa sosial tinggi dan menjunjung tinggi nilai moral dalam segala aspek kehidupannya. Semoga!

Eko Triyanto
Staff Pendidik SD Muhammadiyah Suronandan
Minggir Sleman Yogyakarta

Semua Orang Memiliki Potensi untuk Berprestasi

(Belajar dari Kisah Masathosi Koshiba-Peraih Nobel Fisika tahun 2002)

Pada dasarnya setiap orang memiliki potensi yang bisa dikembangkan guna mencapai prestasi. Hanya saja perlu adanya usaha-usaha untuk memaksimalkan potensi tersebut. Termasuk rangsangan dari lingkungan sekitar guna membangkitkan motivasi seseorang untuk melejitkan potensinya. Dalam dunia pendidikan sering kita menemui siswa yang menurut penilaian subyektifitas kita dianggap sebagai anak yang ‘bodoh’, karena prestasi akademiknya jeblok atau di bawah rata-rata teman lain. Tetapi bernarkah siswa itu memang ‘bodoh’??
Di sinilah seorang guru harus berperan lebih, bukan saja sebatas menyampaikan materi pelajaran namun juga harus jeli mengamati peserta didik. Seorang guru semestinya mampu menjadi konselor sekaligus motivator kepada siswa tersebut agar dapat meningkatkan prestasinya. Karena boleh jadi ‘kebodohan’ itu disebabkan kurangnya motivasi untuk mengembangkan potensi yang dimiliki atau memang karena faktor lain (sosial-psikologis) yang membuat potensi anak sulit berkembang.
Kita bisa belajar dari kisah Masathosi Kosiba, seorang ahli fisika yang berhasil meraih nobel pada tahun 2002. Pria yang lahir di kota Toyohashi, Jepang, pada tanggal 19 September 1926 itu semasa sekolah dianggap sebagai anak yang ‘bodoh’ karena nilai mata pelajaran matematika dan fisikanya jelek. Bahkan ada seorang gurunya yang menganggap Kosiba tidak akan mungkin bisa memahami fisika. Tetapi anggapan itu justru menumbuhkan semangat luar biasa dalam diri Kosiba untuk membuktikan bahwa ia mampu.
Sejak remaja sebetulnya ia bercita-cita bergabung di sekolah militer atau menjadi seorang musisi, sebab ia memang gemar mendengarkan musik. Kira-kira sebulan sebelum ujian militer ia terserang penyakit polio yang memaksanya untuk beristirahat. Dalam masa penyembuhan itu, seorang gurunya sempat memberikan buku yang berisi ide-ide fisikawan Albert Einstein, sehingga mendorongnya menyenangi fisika.
Ia kemudian mendaftar di University of Tokyo memilih jurusan fisika, tetapi sayang dia gagal. Kosiba tak pernah mneyerah, ia terus berusaha sampai akhirnya ia lulus ujian dan diterima. Kosiba bukanlah anak orang kaya, sehingga semasa kuliah dia harus berusaha mencari biaya untuk dirinya dan membantu keluarganya. Ia kemudian bekerja sambil menyelesaikan kuliah. Karena kesibukkannya kadang dalam satu pekan dia hanya masuk kuliah satu kali. Dengan kondisi seperti itu ada yang mengatakan dia tidak akan mungkin lulus. Namun nyatanya dia mampu lulus pada 1951.
Kosiba kemudian meneruskan belajar di Rochester University, Amerika Serikat dengan berbekal surat rekomendasi dari dosennya di Tokyo University yang secara jujur menyatakan: ‘His results are not good, but he’s not that stupid.’ (hasil pendidikan selama kuliah tidaklah bagus, tapi ia bukan seorang yang bodoh). Akhirnya ia bisa diterima di University of Rochester dan empat tahun kemudian Kosiba berhasil mendapatkan gelar Ph.D!
Setelah beberapa tahun di Amerika ia kemudian kembali ke Jepang dan mengajar di almamaternya. Saat bekerja di almameternya inilah Kosiba merancang dan membuat detektor Kamioka NDE yakni alat yang secara sederhana merupakan pendeteksi neutrino matahari. Kamioka adalah nama sebuah tambang dan NDE kependekkan dari Nucleon Decay Experiment (eksperimen untuk mengukur peluruhan nukleon). Kosiba juga berhasil mengembangkan detektor Super Kamioka NDE yakni tipe detektor yang sama, namun memiliki sensitifitas cahaya yang lebih baik dan digunakan dalam pengamatan neutrino matahari.
Kosiba dan timnya terus mengadakan berbagai percobaan sampai akhirnya berhasil membuktikan adanya partikel elementer yang disebut sebagai neutrino. Dari hasil pengamatan itu mendukung pikiran teoritis bahwa ledakan supernova dipicu oleh kegagalan gravitasi. Hasil penelitian tersebut mendorong lahirnya bidang penelitian baru dalam astrofisika, yakni astronomi neutrino.
Demikianlah, Masathosi Kosiba yang semula dicap sebagai anak ‘bodoh’, dengan usaha dan kerja keras akhirnya berhasil menyabet nobel, sebuah hadiah prestisius bagi para ilmuwan. Mungkin memang benar kata-kata penemu legendaris Thomas Alva Edison, bahwa keberhasilan itu ditentukan oleh 1% bakat dan 99% kerja keras.


Eko Triyanto
Guru SD Muhammadiyah Plembon
Cabang Dinas Kec. Minggir
Kabupaten Sleman