Dari Abu Dzar, Rasul Saw. bersabda; “Hai Abu Dzar, ketika kau memasak kuah, perbanyaklah airnya, dan perhatikanlah tetanggamu.” (HR. Muslim). Dalam hadits lain dari Abu Hurairah, Rasul Saw. bersabda, “Hai kaum hawa yang beragama Islam, sekali-kali jangan berhati kecil (jangan merasa hina) sewaktu akan memberi hadiah kepada tetangga, sekalipun hanya sepotong kikil kambing.” (HR. Bukhari-Muslim).
Mungkin timbul pertanyaan kenapa Rasul begitu menekankan sedekah yang berupa makanan ini. Ya, ternyata rekatnya tali ukhuwah bisa bermula dari makanan. Saling berbagi makanan antar tetangga dapat mempererat tali silaturrahim. Karena yang dipandang bukan apa yang diberikan tetapi lebih bagaimana seorang memiliki perhatian kepada tetangga lain.
Pengaruh makanan memang luar biasa. Coba tengok kira-kira apa yang mampu membuat sekelompok anak muda rela bergabung pada sebuah gank? Salah satu faktor utamanya adalah karena makanan. Umumnya mereka menjadi loyal (mempunyai ikatan) diakibatkan oleh karena mereka kerap kali diberi makanan atau minuman (keras). Rasa bisa saling berbagi ini menumbuhkan ikatan yang begitu kuat.
Sebuah cerita menarik pernah dimuat dalam majalah, ada seorang yang belajar di Jepang, selama di sana ia rajin berbagi makanan kepada para tentangganya. Tentu saja hal itu menimbulkan rasa heran karena umumnya masyarakat di sana jarang melakukannya. Ternyata hal itu menumbuhkan ketertarikan untuk mempelajari agama Islam yang sedemikian luhur dalam mengajarkan interaksi sosial kepada sesama manusia. Pada akhirnya kebiasaan berbagi makanan tersebut mampu menjadi jalan terbukanya pintu hidayah dari Allah. Dari sini jelaslah bahwa anjuran Rasul untuk saling berbagi makanan meskipun hanya sepotong kikil amatlah bermanfaat.
Bila dalam keadaan normal memberi makanan sangat dianjurkan apalagi memberi makan kepada mereka yang kekurangan atau sedang membutuhkan. Seperti kepada saudara-saudara kita yang sedang mendapat berbagai musibah. Tentu akan sangat bermanfaat bagi mereka. Orang yang pelit berbagi makanan kepada fakir miskin dan tidak menganjurkannya dianggap sebagai pendusta agama.
“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.” (Al Maa´uun [107]: 1-3)
Begitulah, nampaknya kita harus mulai membiasakan berbagi makanan yang barangkali selama ini dianggap sepele. Patut dicatat agama ini sangat apresiatif pun dalam hal-hal kecil yang bernilai kebajikan.
“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (Al Zalzalah [99]: 7)
Eko Triyanto
Mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam
Fakultas Dakwah
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Tampilkan postingan dengan label Oase Kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Oase Kehidupan. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 09 Mei 2009
PAMRIH
Rame ing gawe sepi ing pamrih. Begitu filosofi orang Jawa yang sarat makna. Artinya dalam berbuat hendaknya lebih mengedepankan karya maksimal tanpa terpengaruh imbalan yang akan diterima. Menunaikan kewajiban tanpa terpaku dan terpengaruh pada hak yang akan diperoleh. Dalam konteks kebangsaan sering kita dengar ungkapan, ‘Tanyakan apa yang telah kau berikan pada negerimu jangan kau tanya apa yang telah kau peroleh darinya’.
Pamrih, adalah suatu yang lumrah sebagai motivasi membangkitkan gairah dalam bekerja/berkarya dan beramal. Tetapi bisa juga menjadi sesuatu yang tidak lumrah jika salah dalam penerapannya. Hampir semua aktifitas yang dilakukan manusia sebenarnya mengandung pamrih. Apapun itu. Bisa berupa materi dan non-materi. Lihatlah orang yang lalu lalang di jalan-jalan, kemana mereka hendak pergi? Tentu mereka ingin mencari pemenuhan terhadap kebutuhan dan keperluan masing-masing. Semuanya punya pamrih.
Dalam ibadah pun tidak luput dari adanya pamrih. Meskipun kita telah memproklamirkan diri untuk menyerahkan hidup, mati dan segala amal ibadah hanya untuk Allah semata. Coba kita tanya diri kita masing-masing, untuk apa sebenarnya kita beramal shaleh. Untuk apa kita sholat, zakat, shadaqah, berdakwah dan berbuat baik pada orang lain. Mungkin akan muncul beragam jawaban. Namun secara umum orang beramal shaleh dengan pamrih tertentu. Entah mencari pahala agar bisa masuk surga dan terhindar dari neraka atau sekedar menggugurkan kewajiban. Semua itu masih dianggap wajar karena memang baru demikian tingkatan kita.
Tidak demikian halnya dengan sufi wanita terkenal, Rabi’ah al-Adawiyah. Ia beramal bukan mencari pahala melainkan mencari Sang Pemberi Pahala itu sendiri yakni Allah. Ia justru berharap surga akan menolak dirinya jika ibadah yang dilakukan sekedar ingin dapat masuk surga. Sebaliknya ia juga rela dimasukkan ke neraka bila ibadahnya hanya karena takut neraka.
Memang adakalanya pamrih menjadi sesuatu yang tidak lumrah. Tidak pantas. Semasa Rasulullah Saw hijrah ada seorang sahabat yang ingin ikut berhijrah. Ia seperti sahabat pada umumnya pun berhijrah dengan harapan dan pamrih. Bedanya ia punya pamrih yang terlalu remeh. Jika orang lain hijrah karena mengharap ridha Allah, ia justru berhijrah karena harta dan wanita. Kemudian Nabi mengingatkan, “Setiap amal perbuatan ditinjau dari niatnya, dan setiap orang berbuat terserah pada tujuannya, maka barangsiapa berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, berarti akan memperoleh keridhaan Allah dan Rasul-Nya (pahala hijrah), dan barangsiapa berhijrah dengan tujuan menghimpun harta kekayaan dunia aatau mengawini seorang wanita yang ia sukai maka sia-sia hijrahnya (tidak berpahala) karena hanya memperoleh harta dan wanita yang dituju.” (HR. Bukhari-Muslim).
Pamrih bisa menjadi perangkap syaitan untuk menghancurkan amal yang telah kita lakukan. Yakni bila kita beribadah dengan pamrih sekedar mendapat keuntungan materi-duniawi, pujian, kehormatan dan sanjungan dari sesama manusia. Allah memperingatkan, “Dan tidaklah mereka disuruh, kecuali supaya menyembah Allah, serta memurnikan keikhlasan agama bagi-Nya (mengharap keridahaan Allah).” (Al-Bayyinah: 5)
Pada masa menjelang pemilihan kepala daerah (Pilkada) secara langsung seperti saat ini (terutama saat kampanye) akan banyak kita jumpai berbagai kegiatan yang digelar untuk rakyat. Banyak bingkisan diobral, banyak bantuan ditawarkan semuanya menghabiskan dana yang tidak sedikit. Alangkah sayangnya jika semua itu dilakukan hanya berorientasi untuk keuntungan materi-duniawi. Berupa kemenangan dalam pemilihan kepala daerah.
Yang pasti, dalam setiap aktifitas yang kita lakukan selalu terselip motif mengharap pamrih. Entah kita sadari atau tidak. Untuk itu kita perlu memilah dan memilih pamrih apa terbaik bagi kita. Tidak lain dan tidak bukan pahala dari Allah dan keridhaan-Nya.
Eko Triyanto
Mahsiswa Komunikasi Penyiaran Islam
Fak. Dakwah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Pamrih, adalah suatu yang lumrah sebagai motivasi membangkitkan gairah dalam bekerja/berkarya dan beramal. Tetapi bisa juga menjadi sesuatu yang tidak lumrah jika salah dalam penerapannya. Hampir semua aktifitas yang dilakukan manusia sebenarnya mengandung pamrih. Apapun itu. Bisa berupa materi dan non-materi. Lihatlah orang yang lalu lalang di jalan-jalan, kemana mereka hendak pergi? Tentu mereka ingin mencari pemenuhan terhadap kebutuhan dan keperluan masing-masing. Semuanya punya pamrih.
Dalam ibadah pun tidak luput dari adanya pamrih. Meskipun kita telah memproklamirkan diri untuk menyerahkan hidup, mati dan segala amal ibadah hanya untuk Allah semata. Coba kita tanya diri kita masing-masing, untuk apa sebenarnya kita beramal shaleh. Untuk apa kita sholat, zakat, shadaqah, berdakwah dan berbuat baik pada orang lain. Mungkin akan muncul beragam jawaban. Namun secara umum orang beramal shaleh dengan pamrih tertentu. Entah mencari pahala agar bisa masuk surga dan terhindar dari neraka atau sekedar menggugurkan kewajiban. Semua itu masih dianggap wajar karena memang baru demikian tingkatan kita.
Tidak demikian halnya dengan sufi wanita terkenal, Rabi’ah al-Adawiyah. Ia beramal bukan mencari pahala melainkan mencari Sang Pemberi Pahala itu sendiri yakni Allah. Ia justru berharap surga akan menolak dirinya jika ibadah yang dilakukan sekedar ingin dapat masuk surga. Sebaliknya ia juga rela dimasukkan ke neraka bila ibadahnya hanya karena takut neraka.
Memang adakalanya pamrih menjadi sesuatu yang tidak lumrah. Tidak pantas. Semasa Rasulullah Saw hijrah ada seorang sahabat yang ingin ikut berhijrah. Ia seperti sahabat pada umumnya pun berhijrah dengan harapan dan pamrih. Bedanya ia punya pamrih yang terlalu remeh. Jika orang lain hijrah karena mengharap ridha Allah, ia justru berhijrah karena harta dan wanita. Kemudian Nabi mengingatkan, “Setiap amal perbuatan ditinjau dari niatnya, dan setiap orang berbuat terserah pada tujuannya, maka barangsiapa berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, berarti akan memperoleh keridhaan Allah dan Rasul-Nya (pahala hijrah), dan barangsiapa berhijrah dengan tujuan menghimpun harta kekayaan dunia aatau mengawini seorang wanita yang ia sukai maka sia-sia hijrahnya (tidak berpahala) karena hanya memperoleh harta dan wanita yang dituju.” (HR. Bukhari-Muslim).
Pamrih bisa menjadi perangkap syaitan untuk menghancurkan amal yang telah kita lakukan. Yakni bila kita beribadah dengan pamrih sekedar mendapat keuntungan materi-duniawi, pujian, kehormatan dan sanjungan dari sesama manusia. Allah memperingatkan, “Dan tidaklah mereka disuruh, kecuali supaya menyembah Allah, serta memurnikan keikhlasan agama bagi-Nya (mengharap keridahaan Allah).” (Al-Bayyinah: 5)
Pada masa menjelang pemilihan kepala daerah (Pilkada) secara langsung seperti saat ini (terutama saat kampanye) akan banyak kita jumpai berbagai kegiatan yang digelar untuk rakyat. Banyak bingkisan diobral, banyak bantuan ditawarkan semuanya menghabiskan dana yang tidak sedikit. Alangkah sayangnya jika semua itu dilakukan hanya berorientasi untuk keuntungan materi-duniawi. Berupa kemenangan dalam pemilihan kepala daerah.
Yang pasti, dalam setiap aktifitas yang kita lakukan selalu terselip motif mengharap pamrih. Entah kita sadari atau tidak. Untuk itu kita perlu memilah dan memilih pamrih apa terbaik bagi kita. Tidak lain dan tidak bukan pahala dari Allah dan keridhaan-Nya.
Eko Triyanto
Mahsiswa Komunikasi Penyiaran Islam
Fak. Dakwah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Label:
Oase Kehidupan
Tangga-Tangga Meraih Keberhasilan
“Tiap-tiap diri itu dibalas sesuai dengan apa yang ia usahakan.” (Thaahaa [20]: 15)
Bekerja untuk kehidupan dunia merupakan salah satu kewajiban setiap muslim setelah melaksanakan ibadah wajib (fardhlu). Islam memerintahkan umatnya untuk selalu mempersiapkan bekal akherat. Tetapi Islam tidak menginginkan hal itu dilakukan secara berlebihan hingga melupakan kebahagiaan hidup di dunia. Maka setiap Muslim dianjurkan agar tekun dan rajin dalam bekerja mencari penghidupan dunia. Keduanya harus berjalan selaras, Islam tidak ingin umatnya berada dalam kemiskinan dan kebodohan dengan dalih mencapai keshalehan individu.
“Dan carilah apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan akhirat), dan janganlah kamu melupakan kebahagiaan dari (kenikmatan) duniawi.” (Al-Qashash [28]: 77)
Bekerja untuk kepentingan dunia dalam pandnagan Islam bisa juga dinilai sebgai ibadah. Kerja yang dimaksud bukanlah dengan sekehendak hati ataupun hanya memburu kesenangan sesaat. Ada adab serta tata cara yang mesti dipatuhi agar hasil kerja yang dilakukan dapat mencapai nilai maksimal dan bermanfaat bukan saja di dunia tetapi juga menjadi amal bagi kehidupan kelak di akherat.
Pertama, mengawali dengan niat yang baik.
Dalam sebuah hadits disebutkan amal itu tergantung pada niatnya. Untuk itu bekerja pun harus dengan niat yang benar, yakni mencari ridha Allah semata. Paling tidak diawali dengan membaca bacaan Basmalah atau membaca do’a. Dalam Al-Qur’an disebutkan, yang artinya, “Dan katakanlah: ‘Ya, Tuhanku, masukakanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong.” (Al-Israa’ [17]: 80)
Kedua, bekerja sesuai dengan bakat dan kemampuan
Allah menciptakan manusia dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Maka manusia diperintahkan untuk saling ta’aruf dan tolong-menolong sesuai peran yang diembannya. Tugas setiap diri adalah mengenali potensi yang dimilikinya untuk kemudian dijadikan modal dalam berusaha. Adakalanya seseorang mempunyai kelebihan fisik (tenaga), tetapi akal dan modal finansialnya terbatas maka ia dapat mengoptimalkan tenaga itu untuk bekerja. Allah Swt. berfirman artinya,
“Katakanlah: ‘Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing. Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya.” (Al-Isra’ [17]: 84)
Ketiga, memilih pekerjaan yang baik dan halal meskipun sulit
Setiap tahun angka pengangguran di negara kita kian membengkak. Sulitnya mencari kerja menyebabkan sebagian dari saudara kita ada yang menempuh cara apapun untuk mendapatkan pekerjaan. Salah satunya dengan praktek KKN dan suap-menyuap yang bukan rahasia lagi.
Tetapi Islam menghendaki agar umatnya tetap selektif dalam mencari pekerjaan meski sulit. Pekerjaan yang baik dan halal lebih disukai meskipun hasilnya sedikit, daripada pekerjaan yang mendatangkan keuntungan banyak tetapi tidak halal. Karena keberkahan rizki yang kita terima tidak terletak pada banyak sedikitnya hasil. Namun terletak pada cara mencari dan untuk apa dipergunakan rizki itu.
Allah berfirman, artinya, “Katakanlah: ‘Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang yang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan.” (Al-Maidah [5]: 100)
Keempat, bekerja dengan sungguh-sungguh
Kesungguhan dan kerja keras sangat diperlukan dalam melakukan suatu pekerjaan. Bahkan dikatakan kesuksesan itu ditentukan oleh 1% bakat dan 99% kerja keras. Dengan kerja keras seseorang tidak akan cepat putus asa apabila gagal. Sebaliknya ia akan tetap bertahan dan mencoba langkah (metode) lain hingga berhasil.
Allah berfirman, artinya, “Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya.” (Al-Hajj [22]: 78)
Kelima, mengoptimalkan potensi diri yang ada
Untuk mengoptimalkan potensi diri diperlukan latihan yang terus-menerus. Karena umumnya seseorang tidak mengetahui seberapa besar potensi yang dimilikinya. Salah satu solusinya ialah dengan tidak takut untuk mencoba dan mencari pengalaman.
Allah berfirman, artinya, “Katakanlah: ‘Hai kaumku, berbuatlah sepenuh kemampuanmu, sesungguhnya aku pun berbuat (pula).” (Al-An’aam [6]: 135)
Keenam, tidak setengah-setengah dalam bekerja
Melaksanakan pekerjaan yang sudah dipilih tidak boleh hanya sekenanya saja. Tetapi harus diusahakan agar mencapai hasil maksimal baik secara kwalitas maupun kwantitas. Karena Allah telah mencontohkan bagaimana Dia menciptakan dunia ini dengan sebaik-baiknya
Allah berfirman, artinya, “Yang membuat sesuatu Dia ciptakan sebaik-baiknya.” (As-Sajdah [32]: 7)
Dalam ayat lain, “Dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu.” (Al-Qashash 28]: 77)
Ketujuh, bekerja dengan efektif
Dalam bekerja unsur efektifitas haruslah menjadi prioritas. Baik mengenai waktu, tenaga maupun pendanaan. Sebab segala sesuatu itu kelak akan dimintai pertanggungjawabannya. Untuk dapat lebih efektif dapat disiasati dengan menyusun rencana kerja yang matang sehingga segala sesuatunya dapat terlaksana dengan lancar.
Allah berfirman yang artinya, “Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna.” (Al-Mukminun [23]: 3)
Kedelapan, melakukan evaluasi
Dalam suatu proses pekerjaan tentu tidak selamanya akan berjalan sesuai rencana yang kita inginkan. Untuk itu kita perlu melakukan evaluasi terhadap hasil dari apa yang telah kita kerjakan maupun apa yang belum bisa kita kerjakan. Agar kita bisa mengetahui faktor-faktor yang menghambat kerja kita. Sehingga kita bisa mencari solusi di masa yang akan datang.
Allah berfirman yang artinya, “Dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.” (Al-Hasyr [59]: 18).
Kesembilan, mengiringi setiap usaha dengan do’a
Bagi seorang muslim doa bukan saja merupakan sebuah permohonan tetapi juga dikatgorikan sebagai ibadah. Mengiringi kerja dengan doa merupakan formula yang efektif karen tanpa pertolongan Allah manusia tidak akan mampu berbuat apa-apa. Kita hanya mampu berusaha sedangkan hasilnya Allah-lah yang menentukan.
“Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina." (Al-Mu’minun [40]: 60)
Itulah sebagian ajaran Islam mengenai etos kerja. Sekarang tinggal bagaimana kita mengaplikasikannya dalam kehidupan kita sehari-hari. Semoga berhasil! Wallahu ‘alam bi ashawab.
Eko Triyanto
Komunikasi Penyiaran Islam
Fakultas Dakwah
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Bekerja untuk kehidupan dunia merupakan salah satu kewajiban setiap muslim setelah melaksanakan ibadah wajib (fardhlu). Islam memerintahkan umatnya untuk selalu mempersiapkan bekal akherat. Tetapi Islam tidak menginginkan hal itu dilakukan secara berlebihan hingga melupakan kebahagiaan hidup di dunia. Maka setiap Muslim dianjurkan agar tekun dan rajin dalam bekerja mencari penghidupan dunia. Keduanya harus berjalan selaras, Islam tidak ingin umatnya berada dalam kemiskinan dan kebodohan dengan dalih mencapai keshalehan individu.
“Dan carilah apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan akhirat), dan janganlah kamu melupakan kebahagiaan dari (kenikmatan) duniawi.” (Al-Qashash [28]: 77)
Bekerja untuk kepentingan dunia dalam pandnagan Islam bisa juga dinilai sebgai ibadah. Kerja yang dimaksud bukanlah dengan sekehendak hati ataupun hanya memburu kesenangan sesaat. Ada adab serta tata cara yang mesti dipatuhi agar hasil kerja yang dilakukan dapat mencapai nilai maksimal dan bermanfaat bukan saja di dunia tetapi juga menjadi amal bagi kehidupan kelak di akherat.
Pertama, mengawali dengan niat yang baik.
Dalam sebuah hadits disebutkan amal itu tergantung pada niatnya. Untuk itu bekerja pun harus dengan niat yang benar, yakni mencari ridha Allah semata. Paling tidak diawali dengan membaca bacaan Basmalah atau membaca do’a. Dalam Al-Qur’an disebutkan, yang artinya, “Dan katakanlah: ‘Ya, Tuhanku, masukakanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong.” (Al-Israa’ [17]: 80)
Kedua, bekerja sesuai dengan bakat dan kemampuan
Allah menciptakan manusia dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Maka manusia diperintahkan untuk saling ta’aruf dan tolong-menolong sesuai peran yang diembannya. Tugas setiap diri adalah mengenali potensi yang dimilikinya untuk kemudian dijadikan modal dalam berusaha. Adakalanya seseorang mempunyai kelebihan fisik (tenaga), tetapi akal dan modal finansialnya terbatas maka ia dapat mengoptimalkan tenaga itu untuk bekerja. Allah Swt. berfirman artinya,
“Katakanlah: ‘Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing. Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya.” (Al-Isra’ [17]: 84)
Ketiga, memilih pekerjaan yang baik dan halal meskipun sulit
Setiap tahun angka pengangguran di negara kita kian membengkak. Sulitnya mencari kerja menyebabkan sebagian dari saudara kita ada yang menempuh cara apapun untuk mendapatkan pekerjaan. Salah satunya dengan praktek KKN dan suap-menyuap yang bukan rahasia lagi.
Tetapi Islam menghendaki agar umatnya tetap selektif dalam mencari pekerjaan meski sulit. Pekerjaan yang baik dan halal lebih disukai meskipun hasilnya sedikit, daripada pekerjaan yang mendatangkan keuntungan banyak tetapi tidak halal. Karena keberkahan rizki yang kita terima tidak terletak pada banyak sedikitnya hasil. Namun terletak pada cara mencari dan untuk apa dipergunakan rizki itu.
Allah berfirman, artinya, “Katakanlah: ‘Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang yang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan.” (Al-Maidah [5]: 100)
Keempat, bekerja dengan sungguh-sungguh
Kesungguhan dan kerja keras sangat diperlukan dalam melakukan suatu pekerjaan. Bahkan dikatakan kesuksesan itu ditentukan oleh 1% bakat dan 99% kerja keras. Dengan kerja keras seseorang tidak akan cepat putus asa apabila gagal. Sebaliknya ia akan tetap bertahan dan mencoba langkah (metode) lain hingga berhasil.
Allah berfirman, artinya, “Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya.” (Al-Hajj [22]: 78)
Kelima, mengoptimalkan potensi diri yang ada
Untuk mengoptimalkan potensi diri diperlukan latihan yang terus-menerus. Karena umumnya seseorang tidak mengetahui seberapa besar potensi yang dimilikinya. Salah satu solusinya ialah dengan tidak takut untuk mencoba dan mencari pengalaman.
Allah berfirman, artinya, “Katakanlah: ‘Hai kaumku, berbuatlah sepenuh kemampuanmu, sesungguhnya aku pun berbuat (pula).” (Al-An’aam [6]: 135)
Keenam, tidak setengah-setengah dalam bekerja
Melaksanakan pekerjaan yang sudah dipilih tidak boleh hanya sekenanya saja. Tetapi harus diusahakan agar mencapai hasil maksimal baik secara kwalitas maupun kwantitas. Karena Allah telah mencontohkan bagaimana Dia menciptakan dunia ini dengan sebaik-baiknya
Allah berfirman, artinya, “Yang membuat sesuatu Dia ciptakan sebaik-baiknya.” (As-Sajdah [32]: 7)
Dalam ayat lain, “Dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu.” (Al-Qashash 28]: 77)
Ketujuh, bekerja dengan efektif
Dalam bekerja unsur efektifitas haruslah menjadi prioritas. Baik mengenai waktu, tenaga maupun pendanaan. Sebab segala sesuatu itu kelak akan dimintai pertanggungjawabannya. Untuk dapat lebih efektif dapat disiasati dengan menyusun rencana kerja yang matang sehingga segala sesuatunya dapat terlaksana dengan lancar.
Allah berfirman yang artinya, “Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna.” (Al-Mukminun [23]: 3)
Kedelapan, melakukan evaluasi
Dalam suatu proses pekerjaan tentu tidak selamanya akan berjalan sesuai rencana yang kita inginkan. Untuk itu kita perlu melakukan evaluasi terhadap hasil dari apa yang telah kita kerjakan maupun apa yang belum bisa kita kerjakan. Agar kita bisa mengetahui faktor-faktor yang menghambat kerja kita. Sehingga kita bisa mencari solusi di masa yang akan datang.
Allah berfirman yang artinya, “Dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.” (Al-Hasyr [59]: 18).
Kesembilan, mengiringi setiap usaha dengan do’a
Bagi seorang muslim doa bukan saja merupakan sebuah permohonan tetapi juga dikatgorikan sebagai ibadah. Mengiringi kerja dengan doa merupakan formula yang efektif karen tanpa pertolongan Allah manusia tidak akan mampu berbuat apa-apa. Kita hanya mampu berusaha sedangkan hasilnya Allah-lah yang menentukan.
“Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina." (Al-Mu’minun [40]: 60)
Itulah sebagian ajaran Islam mengenai etos kerja. Sekarang tinggal bagaimana kita mengaplikasikannya dalam kehidupan kita sehari-hari. Semoga berhasil! Wallahu ‘alam bi ashawab.
Eko Triyanto
Komunikasi Penyiaran Islam
Fakultas Dakwah
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Label:
Oase Kehidupan
Jumat, 21 November 2008
Catatan Harian
CATHAR ANNIDA
SAHABAT-SAHABAT KECILKU
“Sebaik-baik kamu adalah orang yang mau belajar Al-Qur’an dan mau mengajarkannya.” [Rasulullah Saw.]
03 MARET 2003
Alhamdulillah. Ry, Eko bersyukur banget kegiatan TPA bisa jalan lagi, setelah sempat ‘pingsan’ hampir satu tahun. Tapi kini Eko masih sendirian. Temen-temen seperjuangan udah pada pergi. Ada yang sibuk kerja, ada yang merantau, ada yang udah nikah (ayo semangat lagi dong!!), ada juga yang udah nggak mau gabung lagi. Kenapa ya? Sibuk kali atau…awas jangan suudzan!!
Hari pertama masuk keadaan masih semrawut, belum ada jadwal ustadz, jadwal materi, jadwal piket de el el. Buku absensi juga belum bikin, terpaksa dech pake buku catatan. Dan… oh ya sekarang tempatnya pindah ke Masjid lho. Nggak lagi di rumah Pak Nasirun, takut ngerepotin. Kalo’ hari masuknya tetep sama, Senin sampe Kamis.
Nggak nyangka ya, jeda satu tahun udah ngerubah semuanya. Ustadznya pada pergi, trus santrinya sebagian udah malu TPA lagi, udah ngerasa gede. Lho, padahal ngaji Al-Qur’an khan nggak dibatasi umurnya. Sampe kakek-nenek pun masih boleh.
Ry, Eko, kini harus merintis lagi dari awal. Bisa nggak ya? Tapi Eko masih ingat nasehat dari buku yang pernah Eko baca, dengan niat karena Allah dan kesungguhan, pasti Allah akan memberi kemudahan. Seperti janji-Nya. “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” [Al-Ankabut: 69]
Bismillah...
04 MARET 2003
Hari kedua masuk, tambah rame aja. Sahabat-sahabat kecilku (SSKku) makin semangat ngajinya. “Kamu sendiri gimana, Ko?” ‘Afwan, Eko rada nggak konsen. Santri begini banyak, ngajarnya sendirian. Trus ntar kelar jam berapa? Padahal hari selasa gini, ada jadwal main bola ma temen-temen. Ah, pusing. Tapi gimana lagi. Terpaksa dech Eko pakai jurus ‘langkah seribu’ atau kalo pak pos bilang, kilat khusus, he..he..he.. Tapi kasihan juga sich SSKku ada yang belum paham, terpaksa ditinggal. Besok harus ngulang lagi (rasain, lu).
Tapi Eko selalau berusaha menghibur diri. Biar semuanya tetep berjalan baik dan lancar, Eko inget perintah Allah, “Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.” (QS. Fushilat; 35)
Apa ini emang cobaan ya, Eko harus bisa milih mana yang lebih berharga: main bola atau ngajar TPA. Kalo’ bisa sich dua-duanya jalan…
15 APRIL 2003
Eko lihat jarum jam di tangan udah nunjukkin pukul 14.30. Apes bener nich. Dosen yang biasanya keluar setengah dua, molor sampe jam segini. Buru-buru Eko menstarter motor. Sampai rumah udah jam tiga lebih dikit. Padahal kalo’ keadaan normal dari kampus ke rumah bisa ngehabisin waktu satu jam!
Bergegas Eko ke Mesjid. Duh, SSKku udah pada nunggu tuh, kaya’nya sih udah nggak sabaran. Langsung aja Eko suruh mereka wudhu dan sholat ‘Ashar. Eko menyampaikan materi dengan agak loyo. Maklum badan udah capek, pikiran udah nggak fresh lagi. Akibatnya banyak yang nggak merhatiin.
Brakk! Meja paling depan Eko pukul dengan keras. Lalu meluncurlah kata-kata yang kurang enak didengerin. Semua diam. Astagfirullah. Kenapa Eko harus marah kepada mereka. Padahal mereka tidak bersalah sedikitpun. Eko menatap wajah-wajah mereka yang lugu. Masih bersih dari dosa!!. Ah, Eko jadi tambah ngerasa bersalah.
Habis bubaran Eko langsung masuk ke mesjid. Nangis. Cowok nangis gara-gara anak kecil !! Ini nggak lucu kan?
Tapi begitulah Eko sering nangis sendiri kalo’ merasa gagal ngajar. Lalu berkecamuk dalam pikiran Eko, kenapa sih si Anu yang udah hidup enak, bisa baca Al-Qur’an dengan bagus dan punya banyak waktu nggak mau meluangkan waktu sedikitpun untuk mendidik adik-adikya. Padahal Eko udah berusaha mengetuk hati mereka. Ya, Allah… Kalo’ udah gitu Eko buru-buru bikin kesibukan daripada mencari-cari kejelekkan orang lain.
Barangkali mereka hatinya belum terbuka.
ENAM BELAS APRIL DUA RIBU TIGA
Agak bimbang, Eko memasuki pelataran Masjid. Eko masih trauma insiden kemarin. Di luar dugaan, meja sudah tertata rapi seperti biasa. Lantai, papan tulis, udah bersih. Alhamdulillah mereka nggak ngambek. Hati Eko bener-bener tersentuh, ternyata mereka nggak dendam, ah betapa mulianya hati kalian. Padahal tahu sendiri kan, bagaimana kalo’ ada orang dewasa yang lagi nggak sreg, bisa jadi satu tahun nggak saling nyapa. Minta maaf aja nunggu lebaran. Keburu lupa. Padahal Nabi ngasih batas maksimal tiga hari.
Sekarang SSKku jadi lebih anteng dari biasanya, mungkin ini efek dari kejadian kemarin. Tapi mudah-mudahan mereka tidak takut lagi. Emang Eko apaan ??!!
LIMA SEPTEMBER DUA RIBU TIGA
Duh, gembira banget nich. Jadwal-jadwal udah beres trus buku absensi juga udah ada. Tadi sore dapat tambahan personel, ada Siti dan Bu Riyat yang udah mau ngajar. Dan..ehm..ehm, Widya juga ngebantuin ngajar lho!. Rasanya jadi gimana gitu, tambah semangat dan jadi salting sendiri. ‘Heh, Ko! Awas jaga tuh niat biar tetep ikhlas karena Allah. Ntar ada Widya kamu malah jadi riya’ dan beramal hanya untuk menarik perhatiannya aja. Kan nggak ada artinya tuh perjuanganmu. Sia-sia.’
Tapi Insya Allah jelek-jelek begini aku masih inget: keikhlasan itu jadi salah satu landasan dalam beramal, “Barangsiapa yang berharap menemui Tuhannya, (di akhirat untuk menerima pahala, balasan dan karunia dari pada-Nya), hendaklah ia mengerjakan pekerjaan yang baik dan janganlah mempersekutukan dalam beribadah kepada Tuhannya dengan siapapun.” [Al-Kahfi: 110]
Moga-moga mereka mau ngebantuin lagi, untuk seterusnya. Jadi TPA-nya bisa kelar lebih awal, nggak nyampe jam lima. Lumayan, masih bisa main bola atau Badminton. Asyiik !!!
29 SEPETEMBER 2003
Ada anak baru, masih iqra’ jilid satu. Katanya sih udah kelas 4 SD tapi ya ampun jilid satu aja susahnya nggak ketulungan. Beda dengan si Ade’ yang masih TK tapi udah nyampe jilid 3. Hus, Eko jahat ya. Mbanding-mbandingin kaya’ gitu kan nggak boleh. Tiap manusia emang punya kemampuan yang berbeda-beda. Daya tangkapnya pun nggak sama. Jadi ya, Harap Maklum.
Tapi Alhamdulillah hari ini ada tambahan personil. Eko ditemeni Pur dan Udin. Dan sekarang Eko nggak khawatir lagi, soalnya jadwal ustadznya udah jalan dikit-dikit. Tiap hari pasti udah ada ustadz yang ngajar meski Eko nggak datang. Beban Eko jadi berkurang.
Selain tambah ustadz kini juga ada kebiasaan baru. ‘Lempar-lemparan santri’. Kalo’ kebetulan Eko dapat giliran ngajar santri yang rada susah nangkepnya. Diam-diam, Eko akan pindahin tuh kartu santri, biar diajar ustadz yang lain. Jahat ya.
04 JANUARI 2004
Habis lebaran TPA masuk lagi. Inilah saat yang menyedihkan hati. Eko harus kehilangan lagi temen-temen seperjuangan. Widya udah lulus kuliah dan mesti pulang ke Sukabumi, Mba’ Nur dan Wanto udah kerja, Haryono diterima jadi polisi dan harus tugas di propinsi lain, Gandung udah sibuk kerja. Mba’ Wuri udah nikah. Kini tinggal Eko, Siti, Etty, Pur dan Udin.
Tambah sepi nih, tapi Eko nggak boleh patah semangat kan? Eko yakin akan ada lagi para pejuang-pejuang lain yang rela berkorban di jalan Allah. Untuk menggantikan mereka. Ya walaupun Eko sadar baru segini pengorbanan Eko dan temen-temen untuk menegakkan agama Allah. Eko harus tetep istiqamah.
Oh, ya, tadi sore ada kejadian yang bikin Eko, terharu. SSKku pada kompak minta maaf sama usatdz-ustadznya. Lho, padahal kamilah yang seharusnya minta maaf, sebab sering marahin mereka. Eko jadi malu sendiri. Eko dapet pelajaran dari mereka ternyata minta maaf itu nggak membuat seseorang jadi terhina, bahkan sebaliknya. Makasih ya adik kecil.
05 FEBRUARI 2004
Nggak terasa hari ini udah milad TPA ke 3, nggak ada acara khusus, paling-paling pengurusnya (yang udah pada nggak aktif)juga udah pada lupa, kalo’ tiga tahun yang lalu, tepat tanggal ini, TPA ‘Sabiilul Muttaqiin’ berdiri. Udah banyak suka duka yang Eko alami selama ngajar TPA. Kadang dongkol, marah, eneg, bosan de el el. Tapi kadang juga seneng, lega, lucu ngelihatin tingkah SSKku yang lagi pada main. Semoga saja mereka kelak menjadi generasi Islam yang tangguh. Berbakti pada orang tua, bisa berguna bagi agama, bangsa dan negara. Yah, walaupun Eko tahu apa yang Eko lakukan mungkin tidak berarti apa-apa buat mereka.
Oh, ya. Tadi sore si Irvan ‘bandel’ bikin ulah lagi, berani-beraninya tuh anak bawa ulat ke Mesjid, karuan aja para santriwati pada njerit histeris. Terpaksa dech Eko kasih hukuman buat dia. Hukumannya nggak berat kok, Cuma Kho suruh ngapalin do’a habis sholat Dhuha.
14 FEBRUARI 2004
Hari ini Eko nggak tahu, mesti sedih atau seneng. Skripsi Eko udah beres, sambil nunggu wisuda, Eko terpaksa pulang ke Bandung, biar ngirit biaya. Pas pamitan, Eko nggak sanggup nahan tangis. SSKku juga pada kelihatan sedih, ada yang nanya: ‘Kenapa sih kakak harus pergi?’ bikin Eko tambah nunduk.
Kalian belum tahu, kadang sebagai manusia kita dihadapkan pada pilihan yang sulit. Eko, nggak tahu keputusan Eko pulang ke Bandung ini baik atau buruk. Tapi Eko harus berani ngejalanin karena itu pilihan Eko. Eko hanya minta pada Allah agar Eko tidak berubah, mudah-mudahan di Bandung nanti Kho tetep rajin ngaji seperti di Jogja. Bukankah dakwah bisa dilakukan dimana saja?
Selamat tinggal Jogja, Selamat tinggal SSKku. Udah banyak yang kalian ajarkan kepadaku. Eko minta maaf pada kalian kalo’ selama ini Eko banyak nyakitin hati kalian. Ngajinya tambah rajin biar cepet diwisuda.
Dan buat temen-temen seperjuangan, lanjutkanlah langkah kalian, Allah menyertai kalian semua. Jika Allah menghendaki, Insya Allah kita akan bertemu lagi. Sampai jumpa.
Kamar Sunyi, 2004
Salam perjuangan buat sobat-sobat Eko dimana saja yang masih setia menjadi dosen-dosen TPA. Ingatlah sabda Rasulullah, ‘Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar AlQuran dan mau mengajarkannya’.
Salam manis juga buat SSKku.
SAHABAT-SAHABAT KECILKU
“Sebaik-baik kamu adalah orang yang mau belajar Al-Qur’an dan mau mengajarkannya.” [Rasulullah Saw.]
03 MARET 2003
Alhamdulillah. Ry, Eko bersyukur banget kegiatan TPA bisa jalan lagi, setelah sempat ‘pingsan’ hampir satu tahun. Tapi kini Eko masih sendirian. Temen-temen seperjuangan udah pada pergi. Ada yang sibuk kerja, ada yang merantau, ada yang udah nikah (ayo semangat lagi dong!!), ada juga yang udah nggak mau gabung lagi. Kenapa ya? Sibuk kali atau…awas jangan suudzan!!
Hari pertama masuk keadaan masih semrawut, belum ada jadwal ustadz, jadwal materi, jadwal piket de el el. Buku absensi juga belum bikin, terpaksa dech pake buku catatan. Dan… oh ya sekarang tempatnya pindah ke Masjid lho. Nggak lagi di rumah Pak Nasirun, takut ngerepotin. Kalo’ hari masuknya tetep sama, Senin sampe Kamis.
Nggak nyangka ya, jeda satu tahun udah ngerubah semuanya. Ustadznya pada pergi, trus santrinya sebagian udah malu TPA lagi, udah ngerasa gede. Lho, padahal ngaji Al-Qur’an khan nggak dibatasi umurnya. Sampe kakek-nenek pun masih boleh.
Ry, Eko, kini harus merintis lagi dari awal. Bisa nggak ya? Tapi Eko masih ingat nasehat dari buku yang pernah Eko baca, dengan niat karena Allah dan kesungguhan, pasti Allah akan memberi kemudahan. Seperti janji-Nya. “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” [Al-Ankabut: 69]
Bismillah...
04 MARET 2003
Hari kedua masuk, tambah rame aja. Sahabat-sahabat kecilku (SSKku) makin semangat ngajinya. “Kamu sendiri gimana, Ko?” ‘Afwan, Eko rada nggak konsen. Santri begini banyak, ngajarnya sendirian. Trus ntar kelar jam berapa? Padahal hari selasa gini, ada jadwal main bola ma temen-temen. Ah, pusing. Tapi gimana lagi. Terpaksa dech Eko pakai jurus ‘langkah seribu’ atau kalo pak pos bilang, kilat khusus, he..he..he.. Tapi kasihan juga sich SSKku ada yang belum paham, terpaksa ditinggal. Besok harus ngulang lagi (rasain, lu).
Tapi Eko selalau berusaha menghibur diri. Biar semuanya tetep berjalan baik dan lancar, Eko inget perintah Allah, “Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.” (QS. Fushilat; 35)
Apa ini emang cobaan ya, Eko harus bisa milih mana yang lebih berharga: main bola atau ngajar TPA. Kalo’ bisa sich dua-duanya jalan…
15 APRIL 2003
Eko lihat jarum jam di tangan udah nunjukkin pukul 14.30. Apes bener nich. Dosen yang biasanya keluar setengah dua, molor sampe jam segini. Buru-buru Eko menstarter motor. Sampai rumah udah jam tiga lebih dikit. Padahal kalo’ keadaan normal dari kampus ke rumah bisa ngehabisin waktu satu jam!
Bergegas Eko ke Mesjid. Duh, SSKku udah pada nunggu tuh, kaya’nya sih udah nggak sabaran. Langsung aja Eko suruh mereka wudhu dan sholat ‘Ashar. Eko menyampaikan materi dengan agak loyo. Maklum badan udah capek, pikiran udah nggak fresh lagi. Akibatnya banyak yang nggak merhatiin.
Brakk! Meja paling depan Eko pukul dengan keras. Lalu meluncurlah kata-kata yang kurang enak didengerin. Semua diam. Astagfirullah. Kenapa Eko harus marah kepada mereka. Padahal mereka tidak bersalah sedikitpun. Eko menatap wajah-wajah mereka yang lugu. Masih bersih dari dosa!!. Ah, Eko jadi tambah ngerasa bersalah.
Habis bubaran Eko langsung masuk ke mesjid. Nangis. Cowok nangis gara-gara anak kecil !! Ini nggak lucu kan?
Tapi begitulah Eko sering nangis sendiri kalo’ merasa gagal ngajar. Lalu berkecamuk dalam pikiran Eko, kenapa sih si Anu yang udah hidup enak, bisa baca Al-Qur’an dengan bagus dan punya banyak waktu nggak mau meluangkan waktu sedikitpun untuk mendidik adik-adikya. Padahal Eko udah berusaha mengetuk hati mereka. Ya, Allah… Kalo’ udah gitu Eko buru-buru bikin kesibukan daripada mencari-cari kejelekkan orang lain.
Barangkali mereka hatinya belum terbuka.
ENAM BELAS APRIL DUA RIBU TIGA
Agak bimbang, Eko memasuki pelataran Masjid. Eko masih trauma insiden kemarin. Di luar dugaan, meja sudah tertata rapi seperti biasa. Lantai, papan tulis, udah bersih. Alhamdulillah mereka nggak ngambek. Hati Eko bener-bener tersentuh, ternyata mereka nggak dendam, ah betapa mulianya hati kalian. Padahal tahu sendiri kan, bagaimana kalo’ ada orang dewasa yang lagi nggak sreg, bisa jadi satu tahun nggak saling nyapa. Minta maaf aja nunggu lebaran. Keburu lupa. Padahal Nabi ngasih batas maksimal tiga hari.
Sekarang SSKku jadi lebih anteng dari biasanya, mungkin ini efek dari kejadian kemarin. Tapi mudah-mudahan mereka tidak takut lagi. Emang Eko apaan ??!!
LIMA SEPTEMBER DUA RIBU TIGA
Duh, gembira banget nich. Jadwal-jadwal udah beres trus buku absensi juga udah ada. Tadi sore dapat tambahan personel, ada Siti dan Bu Riyat yang udah mau ngajar. Dan..ehm..ehm, Widya juga ngebantuin ngajar lho!. Rasanya jadi gimana gitu, tambah semangat dan jadi salting sendiri. ‘Heh, Ko! Awas jaga tuh niat biar tetep ikhlas karena Allah. Ntar ada Widya kamu malah jadi riya’ dan beramal hanya untuk menarik perhatiannya aja. Kan nggak ada artinya tuh perjuanganmu. Sia-sia.’
Tapi Insya Allah jelek-jelek begini aku masih inget: keikhlasan itu jadi salah satu landasan dalam beramal, “Barangsiapa yang berharap menemui Tuhannya, (di akhirat untuk menerima pahala, balasan dan karunia dari pada-Nya), hendaklah ia mengerjakan pekerjaan yang baik dan janganlah mempersekutukan dalam beribadah kepada Tuhannya dengan siapapun.” [Al-Kahfi: 110]
Moga-moga mereka mau ngebantuin lagi, untuk seterusnya. Jadi TPA-nya bisa kelar lebih awal, nggak nyampe jam lima. Lumayan, masih bisa main bola atau Badminton. Asyiik !!!
29 SEPETEMBER 2003
Ada anak baru, masih iqra’ jilid satu. Katanya sih udah kelas 4 SD tapi ya ampun jilid satu aja susahnya nggak ketulungan. Beda dengan si Ade’ yang masih TK tapi udah nyampe jilid 3. Hus, Eko jahat ya. Mbanding-mbandingin kaya’ gitu kan nggak boleh. Tiap manusia emang punya kemampuan yang berbeda-beda. Daya tangkapnya pun nggak sama. Jadi ya, Harap Maklum.
Tapi Alhamdulillah hari ini ada tambahan personil. Eko ditemeni Pur dan Udin. Dan sekarang Eko nggak khawatir lagi, soalnya jadwal ustadznya udah jalan dikit-dikit. Tiap hari pasti udah ada ustadz yang ngajar meski Eko nggak datang. Beban Eko jadi berkurang.
Selain tambah ustadz kini juga ada kebiasaan baru. ‘Lempar-lemparan santri’. Kalo’ kebetulan Eko dapat giliran ngajar santri yang rada susah nangkepnya. Diam-diam, Eko akan pindahin tuh kartu santri, biar diajar ustadz yang lain. Jahat ya.
04 JANUARI 2004
Habis lebaran TPA masuk lagi. Inilah saat yang menyedihkan hati. Eko harus kehilangan lagi temen-temen seperjuangan. Widya udah lulus kuliah dan mesti pulang ke Sukabumi, Mba’ Nur dan Wanto udah kerja, Haryono diterima jadi polisi dan harus tugas di propinsi lain, Gandung udah sibuk kerja. Mba’ Wuri udah nikah. Kini tinggal Eko, Siti, Etty, Pur dan Udin.
Tambah sepi nih, tapi Eko nggak boleh patah semangat kan? Eko yakin akan ada lagi para pejuang-pejuang lain yang rela berkorban di jalan Allah. Untuk menggantikan mereka. Ya walaupun Eko sadar baru segini pengorbanan Eko dan temen-temen untuk menegakkan agama Allah. Eko harus tetep istiqamah.
Oh, ya, tadi sore ada kejadian yang bikin Eko, terharu. SSKku pada kompak minta maaf sama usatdz-ustadznya. Lho, padahal kamilah yang seharusnya minta maaf, sebab sering marahin mereka. Eko jadi malu sendiri. Eko dapet pelajaran dari mereka ternyata minta maaf itu nggak membuat seseorang jadi terhina, bahkan sebaliknya. Makasih ya adik kecil.
05 FEBRUARI 2004
Nggak terasa hari ini udah milad TPA ke 3, nggak ada acara khusus, paling-paling pengurusnya (yang udah pada nggak aktif)juga udah pada lupa, kalo’ tiga tahun yang lalu, tepat tanggal ini, TPA ‘Sabiilul Muttaqiin’ berdiri. Udah banyak suka duka yang Eko alami selama ngajar TPA. Kadang dongkol, marah, eneg, bosan de el el. Tapi kadang juga seneng, lega, lucu ngelihatin tingkah SSKku yang lagi pada main. Semoga saja mereka kelak menjadi generasi Islam yang tangguh. Berbakti pada orang tua, bisa berguna bagi agama, bangsa dan negara. Yah, walaupun Eko tahu apa yang Eko lakukan mungkin tidak berarti apa-apa buat mereka.
Oh, ya. Tadi sore si Irvan ‘bandel’ bikin ulah lagi, berani-beraninya tuh anak bawa ulat ke Mesjid, karuan aja para santriwati pada njerit histeris. Terpaksa dech Eko kasih hukuman buat dia. Hukumannya nggak berat kok, Cuma Kho suruh ngapalin do’a habis sholat Dhuha.
14 FEBRUARI 2004
Hari ini Eko nggak tahu, mesti sedih atau seneng. Skripsi Eko udah beres, sambil nunggu wisuda, Eko terpaksa pulang ke Bandung, biar ngirit biaya. Pas pamitan, Eko nggak sanggup nahan tangis. SSKku juga pada kelihatan sedih, ada yang nanya: ‘Kenapa sih kakak harus pergi?’ bikin Eko tambah nunduk.
Kalian belum tahu, kadang sebagai manusia kita dihadapkan pada pilihan yang sulit. Eko, nggak tahu keputusan Eko pulang ke Bandung ini baik atau buruk. Tapi Eko harus berani ngejalanin karena itu pilihan Eko. Eko hanya minta pada Allah agar Eko tidak berubah, mudah-mudahan di Bandung nanti Kho tetep rajin ngaji seperti di Jogja. Bukankah dakwah bisa dilakukan dimana saja?
Selamat tinggal Jogja, Selamat tinggal SSKku. Udah banyak yang kalian ajarkan kepadaku. Eko minta maaf pada kalian kalo’ selama ini Eko banyak nyakitin hati kalian. Ngajinya tambah rajin biar cepet diwisuda.
Dan buat temen-temen seperjuangan, lanjutkanlah langkah kalian, Allah menyertai kalian semua. Jika Allah menghendaki, Insya Allah kita akan bertemu lagi. Sampai jumpa.
Kamar Sunyi, 2004
Salam perjuangan buat sobat-sobat Eko dimana saja yang masih setia menjadi dosen-dosen TPA. Ingatlah sabda Rasulullah, ‘Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar AlQuran dan mau mengajarkannya’.
Salam manis juga buat SSKku.
Label:
Oase Kehidupan