Tampilkan postingan dengan label Islamica. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islamica. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 Juni 2009

MEMBANGUN EKONOMI SYARIAH


Bahwa mayoritas penduduk Indonesia bergama Islam adalah fakta yang tidak dapat dibantah. Bahkan menjadi negara berpenduduk muslim terbesar di dunia. Namun pada sisi lain ternyata secara ekonomi umat Islam tertinggal dibanding umat lain. Dampak langsungnya berupa jumlah pengangguran yang kian meningkat, kemiskinan, kebodohan serta kualitas kesehatan yang tidak terjamin. Dalam keadaan demikian sulit kiranya menemukan wajah Islam yang rahmatan lil ‘alamin.
Padahal ekonomi menjadi salah satu pilar dakwah yang penting. Sejarah mencatat pada awal perkembangan Islam, Nabi Muhammad memiliki kemampuan ekonomi yang memadai sebab beliau adalah seorang pedagang yang sukses. Belum lagi sokongan pendanaan dari istri tercinta, Khadijah. Kemudian bergabunglah konglomerat-konglomerat muslim lainnya semisal, Abu Bakar As-shidiq, Usman bin Affan maupun Abdurrahman bin ‘Auf yang tidak ragu-ragu menyumbangkan sebagian besar kekayaan mereka demi dakwah Islam.
Kini, saat sistem ekonomi konvensional hanya meninggalkan kesenjangan yang kian lebar, angka kemiskinan yang terus meningkat serta terampasnya hak-hak kaum lemah. Kita perlu menyambut baik dan mendukung tumbuhnya ekonomi syariah yang cukup menggembirakan.
Dalam Kongres Umat Islam Indonesa (KUII) ke-4, yang diselenggarakan di Jakarta 17-21 April 2005, dibahas salah satu langkah strategis untuk membangun ekonomi syariah yakni membangun kekuatan ekonomi umat yang dapat meningkatkan kesejahteraan bersama secara adil dan merata sesuai dengan prinsip-prinsip syariah. Konggres itu juga merekomendasikan agar mendesak pemerintah untuk memberlakukan dual economic system; konvensional dan syariah sebagai system ekonomi nasional. (
www.republica.co.id)
Secara individu juga perlu ditumbuhkan semangat untuk mengembangkan ekonomi dengan landasan syariah. Suatu sistem yang mengajarkan bahwa kekayaan yang dimiliki bukanlah mutlak miliknya. Melainkan ada sebagian yang menjadi hak kaum fakir miskin. Dengan begitu tidak ada lagi konglomerat muslim yang dengan tenang bersujud di atas sajadah empuk sementara di sekitarnya kaum miskin menahan lapar. Atau menghabiskan miliaran rupiah untuk seremonial keagamaan sedangkan puluhan ribu muslim rela menukar iman mereka demi sesuap nasi.
Padahal jauh-jauh hari Rasulullah telah mengingatkan tentang bahaya kemiskinan yang bisa menyebabkab seseorang terjerumus kepada kekafiran. Melalui perintah Infaq Islam telah menawarkan solusi terbaik untuk membantu kaum miskin tanpa harus melukai atau merendahkan mereka. Islam menganjurkan mereka yang mampu untuk mencari (proaktif) siapa yang bisa dibantu tanpa harus diminta. Sebab islam mencela orang yang meminta-minta.
Apabila umat telah kuat secara ekonomi, insyaAllah dakwah Islam akan terus menggeliat di segenap penjuru. Mari kita berusaha ambil bagian dalam usaha peningkatan ekonomi umat. Karena sesungguhnya muslim yang kuat (aqidah,fisik,ekonomi dsb.) lebih dicintai oleh Allah daripada muslim yang lemah. “Seorang mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada seorang mukmin yang lemah. Dan pada masing-masing keduanya tetap terdapat kebaikan.” (HR Muslim)
Wallahua’lam bi shawwab
Eko Triyanto
Pemred Al Fajr Buletin

Senin, 25 Mei 2009

Islam Telah Bangkit

MUKADIMAH
Mengejutkan, beberapa waktu yang lalu secara jujur pihak Vatikan sebagai otoritas yang memimpin umat Katolik sedunia mengumumkan bahwa saat ini jumlah umat Islam di seluruh dunia telah melampaui umat Katolik! Dan jumlah itu terus bertambah, karena menurut berbagai data, Islam menjadi agama yang paling cepat pertumbuhannya di dunia. Bukan semata karena faktor kelahiran tetapi juga banyaknya orang-orang non-Islam yang kemudian masuk Islam.
Pasca tragedi kontroversial runtuhnya menara kembar World Trade Center (WTC) 11 September 2001 atau dikenal dengan peristiwa 911, umat Islam sepertinya semakin dipojokkan. Buntutnya, Amerika Serikat (AS) menginvansi Afganistan dengan dalih ‘memerangi terorisme’. Tidak hanya cukup sampai di situ, AS kemudian juga menjajah Iraq. Di balik semua itu, tragedi 911 ternyata justru menimbulkan minat luar biasa dari orang-orang barat untuk mengetahui tentang Islam yang sebenarnya. Mereka kemudian banyak belajar dan mencari referensi tentang Islam termasuk dari buku-buku yang ditulis oleh Ulama Muslim. Mereka dibuat kaget setelah mengetahui ‘wajah’ Islam yang sesungguhnya. Ajaran Islam ternyata jauh dari kesan teroris sebagaimana dituduhkan AS dan sekutunya. Islam justru mengajarkan kasih sayang dan perdamaian. Informasi yang selama ini mereka peroleh dari media barat dan buku karangan tokoh-tokoh barat berbeda jauh dari realitas yang ada. Dan imbasnya banyak orang yang kemudian memilih Islam sebagai jalan hidupnya.
Itulah satu di antara hikmah tragedi WTC yang oleh beberapa pakar dikatakan sebagai sandiwara dan akal-akalan Amerika untuk mencari alasan menyerang negara-negara Islam. Begitulah, Allah telah membalas tipu daya mereka.
“Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.” (Ali ‘Imran [3]: 54)

Islam Akan Berjaya !
Dalam sebuah hadits Rasulullah pernah menyampaikan bahwa kelak Islam akan mampu berjaya. Dan tampaknya hal itu mulai terbukti.
“Sesungguhnya Allah telah memperluas (wilayah) untukku (Islam) di bumi, sampai aku bisa melihat wilayah sebelah timur sampai wilayah barat. Dan sesungguhnya kekuasaan umatku akan mencapai melebihi seperti apa yang telah diberikan Allah padaku.” (HR. Muslim dari Tsauban)
Vatikan adalah negara otonom yang terletak adalah salah satu pusat dari kekaisaran Romawi Barat tempo dulu, Roma. Sedangkan Konstantinopel (Istambul) merupakan ibukota Romawi Timur. Dalam sebuah hadits dikatakan bahwa kedua kota itu akan dapat ditaklukan oleh umat Islam.
“Dari Abu Qubail, dia berkata, ‘Suatu ketika, kami berada di dekat Abdullah bin Amr bin Ash ra. dan ada seorang yang bertanya.’ ‘Kota manakah yang lebih dulu ditaklukkan, Konstantinopel atau Romawi?’ Maka ia mengambil sebuah kotak yang memiliki lingkaran berbentuk anting (gembok), lalu ia mengeluarkan sebuah buku dari kotak tersebut, lalu Abdullah bin Amr berkata, ‘Ketika kami bersama Rasulullah untuk menulis (hadits), lantas ketika itu beliau ditanya, ‘Kota manakah yang lebih dahulu ditaklukkan? Konstantinopel ataukah Romawi?’ Rasulullah menjawab, ‘Kota Konstantinopel adalah kota yang ditaklukkan lebih dulu.’” (HR. Ahmad, disahihkan oleh Al Albani)
Dan hal itu sebagian telah terbukti dengan dikuasainya Istambul (Turki). Sedangkan Roma belum dapat dikuasai. Sebagian ‘ulama berpendapat bahwa kota Roma (Italia) juga akan dapat ditaklukkan melalui dakwah dan pembangunan masjid-masjid di kawasan tersebut. Beberapa tahun lalu sebuah masjid raya direncanakan dibangun di Roma. Mungkinkah itu sebagai langkah awal menaklukkan Roma? Wallahua’lam.

Kejayaan Itu Akan Dipergilirkan
Sunnatullah tidak dapat dibantah bahwa masa kejayaan suatu kaum akan dipergilirkan. Bisa jadi sekarang berkuasa tetapi esok atau lusa tidak lagi berdaya. Tidak ada yang salah dengan sunnatullah dan tidak ada yang bisa membantahnya.
“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada'.” (Ali ‘Imran [3]: 140)
Sulitkah bagi Allah untuk memenangkan Agama Islam? Tidak, tidak sama sekali. Allah cukup berkata ‘Jadilah’ maka semua yang dikehendaki-Nya akan terwujud. Bahkan jika Ia menghendaki, dijadikanNya semua umat itu menjadi satu. Jika Dia menghendaki, Dia akan memenangkan dan menolong umat Islam di manapun berada.
Mungkin akan muncul tanya, ‘Lalu kenapa umat Islam tak juga mampu keluar dari berbagai tekanan yang dialami?’ Di antara jawabnya sudah tertera dalam ayat di muka, Allah ingin menguji orang-orang yang betul-betul beriman. Dan Allah ingin memberi kesempatan kepada manusia untuk beramal, berdakwah menyebarkan Islam, bersabar dalam menghadapi kaum kafir atau berjihad membela Islam. Gugur menjadi syuhada!
Allah memberi kita kesempatan. Jika dakwah dan perjuangan menegakkan Islam dimaknai sebagai bagian dari proses menuju kemenangan Islam yang telah dijanjikan Allah, tentu semua akan terasa ringan. Sebab bukan kita yang memenangkannya tetapi Allah. Kita bekerja untuk Allah dan Allah sendiri yang akan membayarnya.
“Allah telah menetapkan: "Aku dan rasul-rasul-Ku pasti menang." Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (Al Mujaadilah [58]: 21)
Jika usaha kita telah benar, niat kita telah ikhlas maka sebenarnya bukan kita yang bekerja tetapi kekuatan Allah-lah yang bekerja. Jika sudah begitu adakah yang mampu membendungnya?
“Maka Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang.” (Ash Shaff [61]: 14)
Islam pernah memimpin dunia dengan penuh kedamaian selama berabad-abad sejak fatkhul Makkah sampai runtuhnya kekhalifahan Turki Ustmani. Kemudian secara bergantian dunia ‘dikuasai’ kapitalisme dan komunisme. Apa yang mereka hasilkan? Tidak lain hanyalah kerusakan di muka bumi. Kemajuan semu yang menafikan berbagai keterpurukan. Teknologi yang tidak diimbangi dengan pembangunan mental-spiritual telah menciptakan manusia-manusia robot yang tidak memiliki hati. Tidak memiliki lagi rasa kasih sayang. Manusia yang kering dari nilai-nilai spiritual dan rasa kemanusiaan.
Dan setelah sekian masa mereka berkuasa, ada saatnya mereka akan runtuh.
“Dan sekiranya orang-orang kafir itu memerangi kamu pastilah mereka berbalik melarikan diri ke belakang (kalah) kemudian mereka tiada memperoleh pelindung dan tidak (pula) penolong.” (Al Fath [48]: 22)

Mengupayakan Sebab Material dan Immaterial
Kebangkitan Islam telah tiba. Tugas kita adalah mengupayakan dan mempersiapkan kekuatan material dan immaterial untuk mencapai kemenangan. Tidak dapat dibantah bahwa kekuatan material (lahiriah) sangat penting untuk diupayakan. Misal, dalam sebuah pertempuran maka jumlah pasukan, peralatan perang, dan perbekalan yang memadai akan memudahkan mencapai kemenangan. Tetapi sejatinya bukan itu saja. Bagi seorang Muslim, kekuatan ruhiyah adalah hal yang tidak boleh diabaikan.
Suatu ketika ‘Umar pernah berkata, bahwa umat Islam menang bukanlah karena kekuatan tetapi karena keutamaan yang dimiliki. Semakin kuat keimanan berarti semakin dekat dengan Allah. Semakin dekat dengan pertolongan-Nya.
Simaklah kisah pertempuran antara Thalut melawan Jalut. Secara materi Jalut akan memenangkan pertempuran karena ia memiliki pasukan yang banyak dan hebat. Begitupun Jalut adalah seorang yang gagah perkasa secara fisik. Berbeda dengan Thalut. Tetapi kehendak Allah ternyata lain. Thalut dengan segenap iman yang terpatri di hati mampu mengalahkan Jalut berikut tentaranya.
“Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah, berkata: "Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar." (Al Baqarah [2]: 249)
Bahwa menyusun berbagai kekuatan dan strategi adalah suatu keniscayaan untuk mencapai keberhasilan. Karena Allah pun telah mengisyaratkannya.
“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya.” (Al Anfaal [8]: 60)

Kekuatan Ruhiyah
Ketika Siprus takhluk di tangan kaum Muslimin, Abu Darda’ justru tersedu. Ia menangis. Abdurrahman bin Jubair bercerita apa yang ia dengar dari ayahnya, “Tatkala Ciprus ditaklukkan oleh kaum Muslimin, tiba-tiba mereka banyak yang menangis. Aku meilhat Abu Darda’ duduk menangis sendirian, aku bertanya kepadanya, ‘Wahai Abu Darda’ apa yang membuatmu menangis di hari Allah memuliakan Islam dan pemeluknya?’ Ia berkata, “Celaka kamu wahai Jubair, betapa hinanya makhluk di sisi Allah jika mereka mengabaikan perintah-Nya. Kamu tahu mereka sebelumnya adalah umat yang kuat dan pemenang, akan tetapi karena mereka meninggalkan perintah Allah, maka kamu lihat seperti apa mereka sekarang.’” (HR. Ahmad)
Dalam Shirah Nabawiyah juga diceritakan. Ahmad bin Marwan bin Maliky di dalam Al Mujalasah dari Abu Ishaq, dia berkata, “Tidak ada musuh yang bertahan lama jika berperang melawan para sahabat. Ketika Heraclius tiba di Anthokia setelah pasukan Romawi dikalahkan pasukan Muslimin, dia bertanya, ‘Beritahukan kepadaku tentang orang-orang yang menjadi lawan kalian dalam peperangan. Bukankah mereka juga manusia seperti kalian?’
Mereka menjawab, ‘Ya’
‘Apakah kalian yang banyak jumlahnya atau mereka?’ tanya Heraclius.
‘Kamilah yang lebih banyak jumlahnya di manapun kami saling berhadapan.’
‘Lalu mengapa kalian dikalahkan?’
Seseorang yang dianggap paling tua menjawab, ‘Karena mereka biasa shalat di malam hari, berpuasa di siang hari, menepati janji, menyuruh kepada kebajikan, mencegah dari kemungkaran dan saling berbuat adil di antara sesamanya. Sementara kami suka minum arak, berzina, melakukan hal-hal yang haram, melanggar janji, suka marah, berbuat semena-mena, menyuruh kepada kebencian, melarang hal-hal yang diridhai Allah dan berbuat kerusakan di bumi.’
Heraclius pun berkata, ‘Engkau membuat aku percaya.’”
Tanpa mengabaikan sebab-sebab material sesungguhnya senjata paling ampuh yang dimiliki umat Islam adalah kokohnya keimanan. Kaum Muslimin memiliki pijakan yang jelas dan tujuan yang pasti. Hingga perjuangan yang mereka lakukan merupakan suatu amal yang akan mendapatkan balasan. Apapun hasilnya.
Sedangkan orang kafir, mereka sebetulnya melangkah dengan langkah yang gamang dan penuh ketidakpastian.
“Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah adalah pelindung orang-orang yang beriman dan karena sesungguhnya orang-orang kafir itu tidak mempunyai pelindung.” (Muhammad [47]: 11)
Setiap pribadi Muslim harus semaksimal mungkin memegang dengan kuat syariat Allah. memperkokoh keimanan dalam hati dan melakukan amal-amal shaleh dengan penuh keikhlasan sebagaimana telah dicontohkan Rasulullah dan para sahabat.
Dengan itu semua, kemenangan itu akan segera terwujud. Karena sesungguhnya pertolongan Allah itu sangat dekat. Dan Dia akan memberi pertolongan jika kita memang sudah memenuhi syarat untuk ditolong sebagaimana para sahabat Rasulullah.
Dr. Abdul Majid Al Hilali dalam bukunya, Rahasia Datangnya Pertolongan Allah, banyak menyebutkan bahwa syarat memperoleh pertolongan Allah itu adalah memperkuat ruhiyah dan menjaga kebersihan hati.
“Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang.” (Al Maidah [5]: 56)
“Dan Kami tolong mereka, maka jadilah mereka orang-orang yang menang.” (Ash Shaaffaat [37]: 116)
“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (Muhammad [47]: 7)
Mari kita jemput pertolongan Allah itu dengan memperbaiki diri dan umat.

Islam Telah Bangkit, Realitas yang Tak Terbantah
NIC atau National Intellegence Council yang merupakan gabungan intelijen dari 15 negara, yang bermarkas di Virginia, AS, pernah membuat prediksi yang akan terjadi pada sekitar tahun 2020. Mereka mengemukakan empat kemungkinan. Pertama, dunia akan dikuasai AS. Kedua, dunia akan dikuasai China. Ketiga, dunia akan dikuasai India. Dan keempat, Islam akan bangkit kembali dengan ditandai berdirinya kekhalifahan Islam (Islamic Caliphate). Dan organisasi yang banyak mendukung terciptanya kekhalifahan Islam itu terus bermunculan di berbagai negara.
Keruntuhan negara komunis Uni Soviet telah membuktikan betapa kehancuran suatu bangsa bukanlah satu hal yang mustahil. Negara-negara bekas Uni Soviet kemudian mendeklarasikan kemerdekaannya. Mulai dari Uzbekistan, Tajikistan, hingga yang terakhir, Kosovo. Negara-negara yang sebagian penduduknya Muslim itu kini telah merdeka dan bisa menjalankan kegiatan agamanya. Satu hal yang mustahil saat komunis masih berkuasa.
Dari jantung kapitalisme dunia pun dapat kita temukan hal serupa. Dr. Raghib As Sirjany menyebutkan, pada tahun 60-an di Amerika hanya terdapat beberapa ribu umat Islam dengan satu masjid di satu kota. Tetapi kini, jumlah kaum Muslim mencapai lebih dari 8 juta orang, dengan jumlah Masjid yang juga meningkat.
Di Inggris, sekutu terdekat Amerika pun tidak jauh berbeda. Menurut sensus tahun 2001 jumlah Muslimin di Inggris mencapai 1,6 juta orang yang sepertiganya merupakan generasi muda, dan jumlah itu terus mengalami kenaikan. Diperkirakan sekarang mencapai 2 juta orang. Hebatnya mereka turut berperan penting dalam perekonomian di Inggris. Sedikitnya 10 ribu Muslim termasuk kategori orang terkaya di Inggris. Bahkan belakangan, seorang Pendeta dan Tokoh Hukum dari Inggris mengusulkan diperbolehkannya penerapan syariat Islam karena dianggap sebagai hukum yang terbaik.
Di negara-negara Eropa pun terjadi hal yang sama. Perkembangan Islam cukup pesat. Sampai-sampai ada tokoh yang mengatakan, jika kondisinya terus bertahan seperti itu maka kelak Eropa akan menjadi negara Arab seperti Timur Tengah saat ini. Tentu saja semua itu sangat mengkhawatirkan para tokoh anti Islam yang sangat paranoid akut terhadap Islam. Imbasnya muncullah sensasi-sensasi yang mencoba memperburuk citra Islam seperti kasus kartun yang menggambarkan Rasulullah yang dimuat di Denmark atau film Fitna di Belanda. Sebelum itu juga ada Salman Rushdie yang menulis Novel ‘Ayat-Ayat Setan’ (the satanic verses). Tetapi ternyata semua itu tetap tak menyurutkan perkembangan Islam.
Dari negeri 1001 malam, Irak, kini umat Islam mulai bangkit dan berupaya mengusir penjajah Amerika. Perlawanan terus terjadi di mana-mana. Membuat pasukan sekutu frustasi dan banyak yang menjadi ‘gila’. Perlawanan secara bergerilya yang dilakukan para mujahidin terus berlangsung di segala penjuru. Akibatnya ribuan tentara Amerika tewas mengenaskan. Tercatat sudah lebih dari 3 ribu tentara Amerika tewas pasca invansi. Jumlah tersebut mungkin terlalu kecil untuk menggambarkan kondisi sebenarnya. Seringkali Amerika dan media barat merahasiakannya.
Film dokumenter, ‘Baghdad Sniper’ secara jelas telah menggambarkan betapa para pejuang yang ahli dalam membidik target dengan senjata laras panjang terus ditempatkan di berbagai sudut yang dijaga oleh tentara sekutu. Mereka membentuk sebuah brigade penembak jitu (sniper) yang diorganisir dan dilatih secara profesional. Hasilnya banyak dari tentara kafir yang tewas. Dipastikan ada banyak korban yang berjatuhan di pihak tentara sekutu namun sengaja dirahasiakan karena merupakan aib bagi Amerika dan sekutunya. Perjuangan serupa juga terjadi di Afganistan, negeri jihad palestina dan negeri jihad yang lain.
Lalu ke Indonesia, negeri dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia. Kebangkitan Islam itu juga terus berjalan. Ghirah untuk lebih mendalami Islam dan mengamalkannya semakin kentara. Halaqah-halaqah dan kelompok kajian yang secara intensif mempelajari Islam tumbuh subur tak terbendung. Banyak golongan muda yang semakin bangga dengan keislamannya. Perangkat pendukung pun kian tersedia. Di banyak daerah sekarang telah dikeluarkan berbagai peraturan daerah (perda) yang bernuansa syariat. Pun buku-buku keislaman dan lembaga kajian formal juga semakin semarak. Belum lagi sekolah-sekolah yang telah memadukan nilai-nilai keislaman dalam pembelajarannya.
Tak hanya itu, kini juga munculnya lembaga-lembaga keuangan syariah, penyadaran akan produk halal. Penggunaan mata uang dinar dan dirham kini juga mulai mendapat sambutan. Konon mata uang Dolar Amerika kelak akan colaps dan itu sudah terlihat ketika negara-negara Eropa menerapkan mata uang Euro. Euro menjadi saingan berat bagi Dolar. Dan masih banyak lagi hal yang menandai kebangkitan Islam.
Wahai saudaraku! Bangkitlah dan enyahkan rasa pesimis dalam dirimu. Bageraklah dan usirlah rasa rendah dirimu. Sesungguhnya Islam itu tinggi dan tidak akan ada yang menandinginya!

Bersiaplah Ambil Bagian!
Jika kaki tak mungkin menapak hingga bumi jihad Palestina. Sungguh masih banyak peran yang bisa kita mainkan untuk mendukung mereka. Dan lebih luas lagi untuk menegakkan kejayaan Islam.
Lahan untuk menegakkan dien-Nya terbentang luas. Mulailah dari perbaikan diri. Meruah kepada keluarga. Dan tebarkan kepada seluruh umat manusia. Jadilah umat terbaik. Islamisasi adalah suatu hal yang dilegalkan oleh Allah seperti tersebut dalam firman-Nya, artinya,
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka.” (Ali ‘Imran [3]: 110)
Dakwah adalah sebuah bangunan besar, tetapi ia dimulai dari kerja-kerja kecil yang teratur dan saling bersinergi. Jika memang masih belum sanggup untuk mengajak beramar ma’ruf nahi munkar, minimal diri kita bisa menjadi contoh untuk suatu kebaikan.
”Barangsiapa merintis jalan kebaikan dalam Islam, berarti ia memperoleh pahala (sendiri) dan pahala orang-orang yang mengikuti jalan kebaikan tersebut dengan tiada mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan sebaliknya barang siapa memulai berbuat jahat dalam Islam, berarti memikul dosa (sendiri) ditambah semua dosa orang-orang yang menirukan kejahatannya dengan tiada mengurangi dosa mereka sedikitpun.” (HR. Muslim)
Para orientalis banyak menebarkan fitnah bahwa Islam disebarkan dengan pedang (kekerasan). Faktanya dalam setiap negara yang dikuasai Islam justru penduduknya diberi kebebasan untuk memilih dan menjalankan agama mereka. Sejatinya ‘pedang’ umat Islam bukanlah pedang baja atau besi yang tajam. ‘Pedang’ itu adalah akhlakul karimah. Akhlak yang baik.
Tentang ini Ahmad Deedat dalam The Choice-nya menukilkan kata-kata Pandit Gyanandra Dev Sharma Shastri, dia menyatakan, “Mereka (pengkritik Muhammad) tidak bisa melihat bahwa satu-satunya pedang Muhammad adalah pedang kemurahan hati, petunjuk, persahabatan, kemauan untuk memaafkan—pedang yang menaklukkan musuh-musuhnya dan membersihkan hati mereka. Pedangnya lebih tajam dari pedang baja.”
Subhanallah! Sungguh menakjubkan, itulah pedang yang mampu mengalahkan musuh tanpa harus melukai, membuat mereka tunduk tanpa harus merasa terhina, dan membuat mereka patuh tanpa harus dipaksa. Itulah pedang Nabi Muhammad dalam menyebarkan Islam.
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.“ (Al Qalam [68]: 4)
Sekarang. Mari kita bergerak. Gerak yang bukan sekedar gerak. Namun gerak dengan langkah yang tertata. Berawal dari niat yang bersih. Memiliki tujuan jelas. Kita bangun barisan dengan membawa panji Islam. Dalam satu ikatan teguh kalimat tauhid, La ilaaha illallaah. Jadilah prajurit Allah. Insya Allah saat kejayaan Islam akan segera tiba.
“Dan sesungguhnya tentara Kami itulah yang pasti menang.” (Ash Shaaffaat [37]: 173)
“Islam akan mencapai apa yang telah dicapai siang dan malam (artinya seluruh dunia), dan Allah tidak akan membiarkan rumah-rumah yang terbuat dari batu dan rumah-rumah yang lain kecuali diperuntukkan bagi Islam, baik dengan cara terhormat atau sebaliknya, kehormatan yang diberikan Allah untuk Islam, dan kehinaan yang digunakan untuk menghina orang-orang kafir.” (HR. Ahmad, Thabrani dan Ibnu Hibban dari Al Dariy)

Allahu Akbar!!
*) Eko Triyanto
Ketua Forum Studi Islam (Forsis) Remassa
Nanggulan, Kamar Pojok, Sya’ban 1429 H

Sabtu, 09 Mei 2009

MENJADI MUSLIM MANDIRI

Dutsur Ilahi:
“Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (At-Taubah [9]: 105)
Motivasi:
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (Ar-Ra’d [13]: 11)
Kisah Teladan:
Ini kisah seorang Muhajirin bernama Abdurrahman bin ‘Auf dengan Qais bin Rabi’ seorang sahabat Anshar. Sebelum hijrah Abdurrahman bin ‘Auf adalah seorang saudagar kaya, namun ia rela meninggalkan harta kekayaannya di Mekkah demi menjaga iman. Suatu ketika Qais berkata kepadanya, “Aku berikan separo hartaku untukmu. Aku juga memiliki dua orang istri, aku beri kamu bagian satu orang.” Namun Abdurrahman bin ‘Auf menjawab dengan penuh ketegasan, “Aku tidak memerlukan itu, tunjukkanlah pasar padaku.” Abdurrahman lalu pergi ke pasar dan mulai saat itu ia berusaha mencukupi kebutuhan hidupnya dari usaha tangannya sendiri.
Menakjubkan, bukan? Begitulah, dan sudah sewajarnya orang yang berusaha mandiri memperoleh penghargaan yang pantas sebagaimana sabda Rasulullah Saw., “Barang yang paling bagus dimakan seseorang adalah yang merupakan hasil kerjanya.” (HR. Ibnu Majah dan Ahmad). Juga diungkapkan dalam hadits lain, “Barangsiapa di malam hari merasa letih karena bekerja dengan tangannya, maka di malam itu ia memperoleh ampunan Allah.” (HR. Ahmad)
Pokok Kajian: Mengapa Harus Kaya dan Mandiri?
Jauh-jauh waktu Nabi Saw., telah mengingatkan kita, bahwa kefakiran dapat menyeret seorang hamba menuju kekafiran. Itu artinya kita harus kaya. Kita harus mandiri. Sebab hanya dengan kemandirian itulah kita dapat menjaga kehormatan, harga diri dan kewibawaan. KH. Abdullah Gymnastiar, da’i sekaligus wirausahawan muslim mengemukakan setidaknya ada empat poin alasan mengapa umat harus kuat secara ekonomi,
Pertama, ekonomi lemah berarti ibadah tidak bisa maksimal.
Kedua, ekonomi lemah menurunkan tingkat pendidikan
Ketiga, ekonomi lemah berarti tingkat kesehatan masyarakat rendah.
Keempat, ekonomi lemah berarti gerbang menuju penjajahan gaya baru.
TIPS! Bikin Hidup Lebih Kaya
Jadilah Pedagang!
“Usaha yang paling utama dalah jual beli yang baik dan pekerjaan seorang laki-laki dengan ketrampilan tangan sendiri.” (HR. Ahmad)
Bekerja sesuai dengan bakat dan kemampuan
“Katakanlah: ‘Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing. Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya.” (Al-Israa’ [17]: 84)
Memilih pekerjaan yang baik dan halal meskipun sulit
Allah berfirman, artinya, “Katakanlah: ‘Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwlah kepada Allah hai orang-orang yang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan.” (Al-Maidah [3]: 100). Niat yang baik tidak menjadikan yang haram menjadi halal.
Bekerja dengan sungguh-sungguh
Allah berfirman, artinya, “Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya.” (Al-Hajj [22]:78)
Mengoptimalkan potensi diri yang ada
Allah berfirman, artinya, “Katakanlah: ‘Hai kaumku, berbuatlah sepenuh kemampuanmu, sesungguhnya aku pun berbuat (pula).” (Al-An’aam [6]: 135)
Jangan tidur di waktu pagi
“Jika telah melakukan shalat di waktu pagi (shubuh) maka janganlah kamu tidur (sehingga tidak sempat) mencari rizki-rizkimu.” (HR. Thabrani)
“Berpagi-bagilah untuk mencari rizki dan kebutuhan-kebutuhan, sebab pagi itu membawa berkah dan kesuksesan.” (HR. Thabrani)

Oleh: Eko Triyanto [eko_nomisyariah@telkom.net]
Disampaikan pada Pengajian Remaja Masjid Pojok-Babadan
Sabtu, 07 April 2007

Minggu, 12 April 2009

Menumbuhkan Energi Positif

Suatu ketika Rasulullah berkumpul bersama para sahabat. Lalu lewatlah seorang lelaki dengan penampilan sangat sederhana. Rasul meminta pendapat tentang orang tersebut. Para sahabat pun mengatakan bahwa orang itu miskin, seumpama melamar seorang perempuan pasti akan ditolak, begitupun dalam status sosial di masyarakat dia tidak akan dihormati.
Berselang waktu, berlalulah seorang lelaki yang berpenampilan elegan. Dengan segala atribut yang menandakan bahwa ia adalah seorang yang kaya. Rasul juga meminta pendapat tentang orang tersebut. Sahabat pun menerangkan, lelaki itu seorang yang kaya. Seandainya ia melamar seorang perempuan pasti akan diterima. dan di dalam masyarakat pun ia akan dihormati.
Rasul kemudian memberi penjelasan. Bahwa sebenarnya orang yang pertama lewat lebih utama dari orang kedua.
Begitulah, dalam pandangan manusia tinggi rendah status sosial seseorang hanya didasarkan pada kekayaannya. Tapi tidak demikian dengan Allah. Dalam salah satu firmanNya Allah menyatakan bahwa kemuliaan seseorang lebih ditentukan oleh seberapa kuat ketakwaan hamba kepada Allah.
Dan untuk menjadi insan yang bertakwa semua manusia diberi bekal yang sama. Karena ketakwaan tidak bisa diwariskan, tidak bisa diperjual-belikan, dan tidak bisa dimanipulasi.
Dalam penciptaan manusia, Allah memberikan kesempurnaan dalam setiap orang. Ada akal yang membedakan manusia dengan hewan. Ada nafsu yang membedakan manusia dengan malaikat. Sehingga dengan itu semua manusia bisa mencapai derajat yang melebihi malaikat. Tapi jika tidak pandai mensyukurinya manusia justru akan terjerembab ke dalam lembah kehinaan yang lebih rendah dari hewan.
Ketakwaan tidak bisa diperoleh dengan kekayaan. Tidak pula dengan wajah yang menawan. Tidak oleh keturunan priyayi. Tidak juga oleh anak para pejabat tinggi. Semua manusia mempunyai modal yang sama untuk mencapai ketakwaan itu. Yakni dengan hati dan akal pikiran. Semua manusia setara dalam hal ini.
Modal kesetaraan yang diberikan Allah untuk mencapai ketakwaan memungkinkan siapapun untuk bisa mencapai derajat terbaik. Meraih kemuliaan di sisi Allah. Dengan begitu tidak ada lagi orang yang beralasan tidak bisa bertakwa karena kemiskinan, karena wajah yang tiada menawan, atau karena hanya keturunan rakyat biasa.
Kesetaraan itu harusnya menumbuhkan energi positif untuk berbuat dan beramal lebih baik. Mengisi detik demi detik dalam hidup ini untuk penuh kemanfaatan. Bukan semata untuk diri kita. Tapi semestinya dapat meruah kepada orang banyak. Sebab menurut Rasul orang yang terbaik adalah mereka yang bisa mendatangkan kemanfaatan buat sebanyak-banyaknya orang.
Energi positif untuk menggantungkan harap hanya kepada-Nya. Segala kesusahan, ketidak-adilan, dan kedzaliman yang dialami di dunia ini hanyalah sementara, hingga tak perlu untuk berputus asa. Di kehidupan selanjutnya Allah pasti akan memberikan keputusan yang seadil-adilnya. Karena Dia-lah Al ‘Adl, Yang Maha Adil.
Energi positif untuk tidak takut mengatakan yang benar itu benar dan yang salah itu salah. Karena yang patut ditakuti hanyalah Allah.
Energi positif yang mendasari semua perbuatan hanya karena Allah. Bukan karena apapun atau siapapun. Sebab hanya Allah-lah yang sanggup memberikan balasan.
So, mari kita tumbuhkan energi positif untuk mengiringi setiap langkah yang kita ayunkan. Berusaha supaya sejarah yang kita ukir senantiasa berada dalam kebaikan. Agar kelak saat catatan-catatan perjalanan hidup kita diputar di akhirat kita tidak tertunduk lesu karena menahan malu.
Wallahua’lam bi shawwab
Ya, Allah ampunilah apa-apa yang salah dalam setiap langkah yang telah aku tempuhi. Berikanlah kekuatan untuk selalu bertetap hati dalam menapaki jalan-Mu. Kokohkanlah saat jiwa ini letih. Dan berilah cahaya petunjuk ketika kegelapan menutupi mata-hati. Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.

Minggir, 04:04:09 21:15
Bersama alunan lagu Michael Heart: ‘We will not go down’
Oleh: Eko Triyanto (www.eko-nomisyariah.blogspot.com)

Menempuh Cara Langit

Saat itu pasukan Muslimin baru saja memperoleh kemenangan di Siprus. Di tengah suasana yang seharusnya dirayakan penuh suka cita itu ada pemandangan kontras. Abu Darda’ justru menangis tersedu. Jubair yang merasa keheranan kemudian mendekati, ingin mengetahui apa yang terjadi dengan saudaranya itu. Isi percakapan itu kira-kira begini.
“Mengapa engkau menangis di saat seharusnya kita bersuka cita merayakan kemenangan?”
Abu Darda’ menjawab, “Tahukah engkau wahai Jubair, bahwa mereka (orang-orang yang baru saja dikalahkan) dahulu adalah penguasa dan dapat memperoleh kejayaan. Tetapi mereka kemudian meninggalkan ajaran Allah, dan seperti inilah akibatnya.”
Ya. Begitulah kesudahan bagi orang-orang yang meninggalkan ajaran Allah. Tidak lain mereka justru akan mengalami kehancuran. Semakin jauh dari Allah, semakin jauh pula pertolongan Allah.
Lalu apa relevansinya dengan keadaan sekarang???
Saudaraku, banyak orang yang berpikir bahwa untuk bisa bertahan serta mendapatkan kebahagiaan di dunia ini hanya dapat diperoleh dengan usaha materiil semata. Artinya jika mereka berusaha dengan sungguh-sungguh, bekerja keras dan semacamnya maka apa yang mereka inginkan pasti akan tercapai. Seorang pelajar yang ingin lulus ujian kemudian belajar dengan tekun. Ikut berbagai bimbingan belajar, privat ataupun menjalani berbagai try out ujian. Mereka berharap dengan usahanya itu dapat memperoleh hasil yang baik.
Memang tidak ada yang salah, tetapi cukupkah sampai di situ???
Beberapa tahun lalu kita menyaksikan sebuah hal yang cukup mencengangkan. Seorang siswa di Jawa Tengah yang menjadi juara olimpiade sains ternyata gagal mencapai kelulusan. Heran bercampur tidak percaya. Di saat teman lain yang mungkin tingkat kecerdasannya tak sebagus dia merayakan kelulusan. Ia justru harus tertunduk lesu menerima kenyataan yang ada.
Apakah ada yang salah???
Tidak ada yang salah dengan apa yang telah Allah takdirkan bagi setiap hamba. Seringkali kita lupa bahwa untuk mendapatkan apa yang menjadi keinginan kita tidaklah cukup ditempuh dengan cara-cara bumi. Kita butuh cara-cara langit. Karena Allah telah berjanji bahwa siapapun yang bertakwa kepada Allah maka Dia akan menolongnya. Memberi jalan keluar dari arah yang tiada disangka.
Manusia hanya bisa berikhtiar sedangkan Allah yang menentukan hasil akhirnya. Maka sebenarnya mewujudkan keinginan dengan cara bumi saja belumlah cukup. Usaha itu harus selalu dibarengi dengan cara-cara langit.


Lalu apakah cara-cara langit itu???
Intinya adalah mendekatkan diri kepada Allah. Semakin dekat seorang hamba kepada Allah, maka akan semakin mudah ia mendapatkan pertolonganNya. Hal tersebut dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain:
Menjauhkan diri dari maksiat
Berbagai kemaksiatan hanya akan memperkeruh hati dan menumpulkan akal pikiran. Bagaimana mungkin kita memohon sesuatu kepada Allah sedangkan kita menerjang apa yang menjadi laranganNya. Pertolongan Allah tidak mungkin dicapai dengan bermaksiat kepada-Nya.
Menjalankan berbagai perintah Allah
Yang wajib sudah pasti harus ditunaikan. Ditambah ibadah sunnah. Shalat malam, shalat dhuha, puasa senin-kamis, memperbanyak tilawah quran dan sebagainya. Jika hal itu bisa dilakukan secara rutin (istiqamah) insyaAllah akan segera terasa efek positifnya.
Tidak bosan memanjatkan doa
Doa adalah senjata seorang Mukmin. Doa juga merupakan ibadah sehingga siapapun yang berdoa kepada Allah sesungguhnya ia juga sedang beribadah dan mendapat pahala. Allah telah berjanji akan selalu mengabulkan doa setiap hambaNya meskipun bentuk pengabulannya tidak selalu seperti apa yang kita inginkan.
Bertawakkal kepada Allah
Setelah melakukan berbagai usaha. Menempuh cara-cara bumi dan cara-cara langit hal terpenting yang tidak boleh dilupakan adalah menyerahkan hasilnya kepada Allah. Bersiap diri untuk tidak ‘menentang’ keputusan Allah sekaligus tidak berputus asa. Karena apapun hasilnya adalah baik menurut perhitungan Allah.
Bersabar atau bersyukur
Ketika segala usaha telah dikerahkan. Ketika segala hasil telah dipasrahkan. Maka langkah berikutnya adalah bersabar atau bersyukur. Bersabar saat hasil usaha kita ternyata tidak sesuai harapan. Dan bersyukur bila apa yang kita inginkan tercapai. Pada keduanya masing-masing terdapat kebaikan. Sebab iman setengahnya berupa sabar dan setengahnya lagi adalah syukur.

Saudaraku, inilah relevansi kisah di awal tulisan dengan kehidupan kita sehari-hari. Bila seseorang jauh dari Allah, maka ia hanya akan mendapatkan kehancuran dan jauh dari pertolongan Allah. Memang tidak mudah menempuh cara-cara langit. Tetapi yakinlah bahwa setiap langkah yang kita ayunkan untuk berusaha menempuhnya akan dicatat sebagai kebaikan yang tidak pernah hilang.
Wallahua’lam bi shawwab.

Oleh: Eko Triyanto (www.eko-nomisyariah.blogspot.com)
Saat gerimis membasahi bumi Parakanwetan, 28/03/2009 19:29

Rabu, 18 Februari 2009

MAKA, BEKERJALAH KAMU!

Dutsur Ilahi:
“Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (At-Taubah [9]: 105)
Motivasi:
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (Ar-Ra’d [13]: 11)
Kisah Teladan:
Ini kisah seorang Muhajirin bernama Abdurrahman bin ‘Auf dengan Qais bin Rabi’ seorang sahabat Anshar. Sebelum hijrah Abdurrahman bin ‘Auf adalah seorang saudagar kaya, namun ia rela meninggalkan harta kekayaannya di Mekkah demi menjaga iman. Suatu ketika Qais berkata kepadanya, “Aku berikan separo hartaku untukmu. Aku juga memiliki dua orang istri, aku beri kamu bagian satu orang.” Namun Abdurrahman bin ‘Auf menjawab dengan penuh ketegasan, “Aku tidak memerlukan itu, tunjukkanlah pasar padaku.” Abdurrahman lalu pergi ke pasar dan mulai saat itu ia berusaha mencukupi kebutuhan hidupnya dari usaha tangannya sendiri.
Menakjubkan, bukan? Begitulah, dan sudah sewajarnya orang yang berusaha mandiri memperoleh penghargaan yang pantas sebagaimana sabda Rasulullah Saw., “Barang yang paling bagus dimakan seseorang adalah yang merupakan hasil kerjanya.” (HR. Ibnu Majah dan Ahmad). Juga diungkapkan dalam hadits lain, “Barangsiapa di malam hari merasa letih karena bekerja dengan tangannya, maka di malam itu ia memperoleh ampunan Allah.” (HR. Ahmad)
Pokok Kajian: Mengapa Harus Kaya dan Mandiri?
Jauh-jauh waktu Nabi Saw., telah mengingatkan kita, bahwa kefakiran dapat menyeret seorang hamba menuju kekafiran. Itu artinya kita harus kaya. Kita harus mandiri. Sebab hanya dengan kemandirian itulah kita dapat menjaga kehormatan, harga diri dan kewibawaan. KH. Abdullah Gymnastiar, da’i sekaligus wirausahawan muslim mengemukakan setidaknya ada empat poin alasan mengapa umat harus kuat secara ekonomi,
Pertama, ekonomi lemah berarti ibadah tidak bisa maksimal.
Kedua, ekonomi lemah menurunkan tingkat pendidikan
Ketiga, ekonomi lemah berarti tingkat kesehatan masyarakat rendah.
Keempat, ekonomi lemah berarti gerbang menuju penjajahan gaya baru.
TIPS! Bikin Hidup Lebih Kaya
Jadilah Pedagang!
“Usaha yang paling utama dalah jual beli yang baik dan pekerjaan seorang laki-laki dengan ketrampilan tangan sendiri.” (HR. Ahmad)
Bekerja sesuai dengan bakat dan kemampuan
“Katakanlah: ‘Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing. Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya.” (Al-Israa’ [17]: 84)
Memilih pekerjaan yang baik dan halal meskipun sulit
Allah berfirman, artinya, “Katakanlah: ‘Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwlah kepada Allah hai orang-orang yang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan.” (Al-Maidah [3]: 100). Niat yang baik tidak menjadikan yang haram menjadi halal.
Bekerja dengan sungguh-sungguh
Allah berfirman, artinya, “Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya.” (Al-Hajj [22]:78)
Mengoptimalkan potensi diri yang ada
Allah berfirman, artinya, “Katakanlah: ‘Hai kaumku, berbuatlah sepenuh kemampuanmu, sesungguhnya aku pun berbuat (pula).” (Al-An’aam [6]: 135)
Jangan tidur di waktu pagi “
“Jika telah melakukan shalat di waktu pagi (shubuh) maka janganlah kamu tidur (sehingga tidak sempat) mencari rizki-rizkimu.” (HR. Thabrani)
“Berpagi-bagilah untuk mencari rizki dan kebutuhan-kebutuhan, sebab pagi itu membawa berkah dan kesuksesan.” (HR. Thabrani)

Oleh: Eko Triyanto [eko_nomisyariah@telkom.net]
Disampaikan pada Pengajian Remaja Bina Muda, Mergan Sedangmulyo
Sabtu, 28 April 2007

Langkah Jitu Mengatur Waktu

Dutsur Ilahi:
“Allah mempergantikan malam dan siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran yang besar bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan.” (An Nuur [24]: 44)
Pergantian siang-malam, bagi seorang muslim bukanlah sekedar bergulirnya hari. Namun harus menjadi pelajaran bahwa di dunia ini tidak ada yang abadi. Malam yang begitu pekat perlahan sirna seiring datangnya pagi. Begitupun siang yang benderang berubah menjadi gelap. Dalam perjalanan waktu tersebut manusia diperintahkan dan diberi kesempatan menggunakannya untuk beramal shaleh. Untuk beribadah kepada Allah sebagai tugas utama manusia. Beruntunglah orang yang mampu mengisi setiap detik dalam hidupnya dengan kebaikan. Sebagai bekal kehidupan akhirat. Kita kah itu??

Motivasi:
“Perhatikan lima perkara sebelum lima perkara, mudamu sebelum tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, cukup (kaya) mu sebelum fakirmu, waktu luangmu sebelum waktu sibukmu dan hidupmu sebelum matimu.” (HR. Hakim)
Waktu adalah harta paling mahal yang kita miliki, tetapi seringkali terabaikan bahkan kita sia-siakan. Sekali ia lewat, maka emas setinggi gunung pun tidak akan bisa menukarnya agar terulang. Begitu pentingnya arti waktu sampai Allah pun bersumpah dengannya, sebagaimana termaktub dalam surat Al-‘Ashr. Kemudian Imam Al-Ghazali juga pernah bertanya, ‘Apa yang paling jauh dari kita?’ Yang paling jauh adalah masa yang telah lewat, sebab ia tidak akan mungkin bisa kembali.

Pokok Kajian: Mengapa Kita Harus Pandai Memanfaatkan Waktu?
Semua manusia diberi jatah waktu yang sama selama sehari semalam yakni 24 jam, tetapi ada orang yang bisa sukses dan ada pula yang gagal. Itu semua tergantung bagaimana kita memanfaatkan waktu. Seorang Muslim, haruslah pandai dalam mempergunakan waktunya. Pandai membuat jadwal keseharian yang jelas dan terarah. Jangan samapai kacau apalagi melewatkan waktu untuk hal yang sia-sia. Karena masa atau usia atau waktu itu sangat berarti dan akan dimintai pertanggunjawabannya kelak.
Kita perlu membuat skala prioritas agar dengan waktu yang terbatas itu kita dapat melakukan kerja-kerja besar dan penting. Salah satu contohnya yakni dengan membagi aktivitas kita dalam lima kategori dengan skala A B C D E (Adi W Gunawan dalam Genius Learning Strategy)

Skala Prioritas
Aktifitas yang dilakukan
A
Adalah untuk kategori sesuatu yang penting, yang harus dilakukan, akan mendatangkana akibat serius yang tidak diinginkan.
B
Perlu dilakukan, bila tidak dilakukan akan mengakibatkan timbulnya efek negatif meskipun tidak terlalu berat.
C
Baik untuk dikerjakan. Tidak ada akibat negatif.
D
Delegasikan (out-source) bebaskan waktu anda
E
Eliminate atau abaikan saja
TIPS! Bikin Hari-hari Lebih Berarti
Jadilah orang yang beruntung dengan memperbanyak sujud
“(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya?” (Az Zumar [39]: 9)
Hindari hal yang sia-sia, karena semua akan dimintai pertanggungjawabannya
“Tidak akan bergeser kaki anak Adam di akhirat nanti, sebelum ditanya tentang untuk apa masa muda dihabiskan.” (Alhadits)
Banyak-banyaklah bertasbih!
“Dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya dan bertasbih pulalah pada waktu-waktu di malam hari dan pada waktu-waktu di siang hari, supaya kamu merasa senang,” (Thahaa [20]: 130)

Disampaikan pada:
30 Nopember 2007
[PENGAJIAN REMAJA MASJID NUR RAHMAT BEKELAN]

Jumat, 02 Januari 2009

CINTA DI ATAS CINTA

Carilah cinta yang sejati
Yang ada hanyalah pada-Nya
Carilah cinta yang hakiki
Yang hanya pada-Nya yang Esa
Carilah cinta yang abadi
Yang ada hanya pada-Nya
Carilah kasih yang kekal selamanya
Yang ada hanyalah pada Tuhanmu
(Raihan, Carilah Cinta)


Ibrahim Khalilullah
Ibrahim adalah kekasih Allah. Seperti tersurat dalam QS An Nisa’ [4]: 125, “Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya.”
Dialah nabi yang mendapat gelar khalilullah. Itu semua disematkan kepada Nabi Ibrahim karena beliau telah mampu melewati berbagai ujian yang berat. Ujian terhadap keimanannya. Ujian terhadap kadar cintanya kepada Allah. Ibrahim mampu memposisikan kecintaannya kepada Allah di atas segala kecintaan terhadap kesenangan duniawi.
Awalnya, untuk menemukan Sang Kekasih, Ibrahim mesti melewati proses pencarian yang panjang. Ia berusaha mengenal Sang Kekasih di tengah kepungan adat kaumnya yang saat itu menyembah berhala. Semula ia menganggap bintang sebagai Tuhan. Lalu bulan dan matahari. Tapi masing-masing hilang berganti seiring berputarnya waktu. Sampai akhirnya ia berkesimpulan, Kekasih yang ia cari adalah pencipta dari bintang, bulan, matahari dan alam semesta ini. Begitulah, cinta itu tumbuh melalui pencarian melelahkan, tapi dari sanalah keimanan itu menjadi berkesan dan terpatri dalam hati.

Melewati Berbagai Ujian
Saat kebenaran sudah ia dapatkan. Ujian demi ujian datang silih berganti. Sang Kekasih ingin menguji kadar kecintaan Ibrahim. Seperti juga iman yang tak sempurna tanpa amaliyah. Cinta pun butuh pembuktian. Cinta perlu pengorbanan! Mula-mula Ibrahim diuji harus berpisah dengan keluarga. Ayahnya, Adzar, yang saat itu masih menyembah berhala tetap enggan beriman bahkan memberikan suatu pilihan pahit, “Berkata bapaknya: “Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku, hai Ibrahim? Jika kamu tidak berhenti, maka niscaya kamu akan kurajam, dan tinggalkanlah aku buat waktu yang lama.” (Maryam [19]: 46)
Ibrahim harus memilih, berkumpul dengan keluarga dalam kekafiran, atau pergi membawa keimanan. Dengan penuh haru, opsi kedualah yang dipilih: berpisah dengan keluarga. Cinta kepada Allah telah mengalahkan kecintaannya kepada keluarga.
Waktu bergulir. Seiring keimanan yang tumbuh subur dalam jiwa. Kecerdasan seorang Ibrahim pun terus berkembang. Hingga satu ketika dengan penuh keberanian, ia berusaha menghancurkan lambang kekafiran kaumnya. Ia robohkan semua berhala yang biasa disembah pada masa itu, kecuali satu. Sengaja ia memilih berhala yang paling besar agar tetap utuh dan dikalunginya dengan kapak. Saat kaumnya dengan penuh kemarahan mengintrogasi Ibrahim, ia berucap, “Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara." (Al Anbiyaa' [21]: 63)
Itulah jawaban seorang pemuda yang memadukan keimanan, keberanian dan kecerdasan. Lebih dari itu, dalam peristiwa tersebut Ibrahim telah siap mengorbankan diri dan jiwanya demi kecintaannya kepada Allah. Ibrahim paham betul resiko dari apa yang ia lakukan. Tapi cinta kepada Allah telah menghapus segala ketakutan itu. Pengorbanan dan cinta itu kemudian dibalas tunai oleh Sang Kekasih, yang tidak rela Ibrahim dianiaya,
“Maka tidak adalah jawaban kaum Ibrahim, selain mengatakan: "Bunuhlah atau bakarlah dia", lalu Allah menyelamatkannya dari api. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang beriman.” ( Al Ankabut [29]: 24)
Ujian terhadap kecintaan kepada Sang Kekasih terus berlanjut meskipun telah memasuki bahtera rumah tangga. Pernikahan pertamanya dengan Sarah, belum juga diberi keturunan. Padahal usianya telah menginjak senja. Tanpa putus asa dia terus berdoa. Memohon kepada Sang Kekasih Yang Maha Kaya. Sampai tibalah ia harus menikah dengan Hajar. Dari Hajar inilah kemudian Allah mengamanahkan seorang anak yang shaleh bernama Ismail. Ismail tumbuh menjadi pemuda yang beriman. Menjadi harapan untuk melanjutkan estafet dakwah dan penyeru kebenaran. Saat kecintaan dan kebahagiaan itu mencapai puncak. Sang Kekasih kembali ingin menguji kadar cinta Ibrahim. Turunlah perintah melalui mimpi, “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" (Ash Shaaffaat [37]: 102)
Dan Ismail, sang putra yang shaleh itu menjawab, "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar." (Ash Shaaffaat [37]: 102)
Sebuah percakapan yang memilukan. Tetapi sekali lagi cinta itu bekerja. Kekuatan cinta kepada Allah sanggup mengalahkan segala kecintaan terhadap kesenangan duniawi. Keimanan mampu melumpuhkan tipu daya setan, kesabaran bisa menundukkan hawa nafsu. Ismail pun dikurbankan. Tetapi kembali, Sang Kekasih, yang telah menyaksikan pengorbanan Ibrahim sebagai bukti kadar kecintaannya, menunjukkan kemurahan-Nya. Ismail diganti dengan ghibas. Peristiwa tersebut kemudian diperingati tiap tahun dalam bentuk penyembelihan hewan qurban. Selain itu Nabi Ibrahim juga diberi kelebihan yakni menjadi bapak para nabi, karena banyak dari keturunan beliau yang kemudian diangkat menjadi nabi, antara lain Ismail, Ishak sampai Musa dan Muhammad Saw.


Hakikat Qurban dan Kemauan Berbagi
Kisah Ibrahim dan Ismail menjadi tonggak awal disyariatkannya qurban. Lambang kemenangan iman atas hawa nafsu. Kemengan cinta kepada Allah atas cinta kepada selainNya.
Qurraba, itulah asal kata dari qurban yang bermakna mendekat. Mendekat kepada Allah. Mendekat kepada pemilik semua nikmat dengan cara menafkahkan sebagian dari rizki yang kita cintai dalam bentuk binatang qurban. Hewan yang kita qurbankan hanyalah sarana menuju kedekatan itu. Ia tidak bermakna apa-apa saat kita meniatkannya hanya untuk tujuan-tujuan jangka pendek yang bersifat duniawi. Ketenaran, penghormatan, sanjungan dan puja-puji dari sesama manusia. Apalagi sekedar ‘program perbaikan gizi’. Karena sesungguhnya yang sampai kepada Allah bukanlah daging atau darah qurban itu, namun ketakwaan. “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” (Al Hajj [22]: 37)
Qurban harus dilandasi takwa. Sebagai wujud kepatuhan kepada perintah Allah serta bentuk kesyukuran atas karunia Allah yang tak berputus. Inilah hakikat qurban secara vertikal, dalam mewujudkan hablum minallah. Kedekatan hamba dengan Sang Pencipta.
Selain itu, qurban juga melatih kepedulian. Mengajak kepada manusia agar bersedia berbagi. Karena berbagi itu terangkan hati. Berbagi itu investasi tak kenal rugi. Tabungan amal yang suatu saat akan terbalas. Ibadah qurban mengajarkan bagaimana berinteraksi dengan sesama. Mempertajam kepekaan sosial. Di sinilah hakikat qurban secara horizontal sebagai bagian membumikan hablumminannas. Keharmonisan hubungan antar sesama manusia.
“Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.” (Al Hajj [22]: 28)
Bila dengan qurban itu, seorang hamba mampu memupus hawa nafsu yang selalu mengajak untuk mencintai dunia secara berlebihan, berarti ia telah mampu membuktikan kadar ketakwaannya. Bila dengan qurban itu seorang hamba kemudian lebih peka terhadap keadaan sosial dan kondisi saudaranya, itu pertanda ia sudah bisa mengerti hakikat qurban sesungguhnya. Tanpa itu semua, qurban hanya akan menjadi rutinitas tiap tahun tanpa ruh dan tanpa makna.

Khatimah
Episode demi episode cinta yang telah dijalani Nabi Ibrahim menjadi bukti hakikat cinta yang sejati. Cinta tak berakhir. Cinta yang pasti terbalas sempurna, bahkan lebih dari apa yang telah diberikan. Cinta yang tidak menyisakan kecewa, apalagi kepedihan. Itulah cinta Allah. Cinta di atas cinta. Dan semestinya begitu seorang Mukmin menjalaninya.
“Katakanlah: "Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (At Taubah [9]: 24)
Jika di hatimu ada cinta, dengarkanlah seruan dari Sang Kekasih Yang Maha Sempurna. “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah.” (Al Kautsar [108]: 2)
Wallahu a’lam bishawwab

Jumat, 26 Desember 2008

Istiqomah dalam Inkonsistensi

Ramadhan yang lalu, beberapa sahabat mengirimkan Short Message Service (SMS) yang isinya hampir sama. Intinya ajakan melakukan shalat tahajjud dan memanjatkan doa untuk saudara kita di Manokwari yang menurut berita akan dijadikan sebagai kota injil. Berikut dengan segala konsekuensi yang merugikan umat Islam. Awal mendapat SMS rasanya biasa saja. Toh, saya sudah mendapat kabar itu sekitar setahun lalu. Entah mengapa baru sekarang umat Islam bereaksi. Reaksi yang terlambat pikir saya. Ada beberapa dugaan mengapa demikian. Pertama, umat Islam belum menjadi ‘generasi Iqra’’. Generasi yang suka membaca. Kedua, kalau pun sudah, sumber informasinya patut diteliti. Stasiun TV mana yang ditonton, koran dan majalah apa yang dibaca. Boleh tahu, bahwa sebagian besar media massa (TV, Koran, Majalah, dll) kerap berbuat tidak adil kepada umat Islam.
Tapi saya yakin pernyataan terlambat itu akan dibantah, ‘Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.’ Padahal dalam berbagai perintah, Allah dan Rasul-Nya sering menggunakan kata, ‘bersegeralah!’ Pun seorang Muslim diperintah untuk bertafahum tentang kondisi saudaranya.
Mendapat sms lagi, saya mulai bereaksi, saya balas dengan menulis kira-kira begini. ‘Umat Islam ini cenderung reaktif dalam menanggapi persoalan. Tapi tidak bisa konsisten’ SMS yang pedas saya kira, buktinya si pengirim yang anonim itu justru menyalahkan saya…
Ya, saya merasakan bahwa sebetulnya umat ini masih memiliki ghirah (kecemburuan) saat agamanya merasa dilecehkan, terancam atau dizalimi. Tetapi tidak bisa menjaga ritme untuk waktu yang lama. Kasus kartun yang melecehkan Rasulullah menjadi bukti. Beberapa saat setelah berita itu menyebar ke seantero jagad, aksi anarkisme tak bisa dicegah. Kedutaan Denmark di berbagai tempat medapat teror bahkan ada yang dibakar. Disusul kemudian seruan boikot produk-produk Denmark. Untuk ini di Timur Tengah dampaknya sangat dirasakan. Sampai-sampai perusahaan-perusahaan Denmark harus membuat iklan ‘pembelaan diri dan meminta maaf’. Itu berlangsung beberapa saat. Lalu surut. Dan ketika untuk kali kedua kartun itu dimuat lagi, tak ada orang yang berteriak selantang dulu. Media pun seperti menyimpannya rapat-rapat dalam kotak ‘off the record ’
Siapa yang peduli???
Inkonsistensi, kata itu bisa mewakili keadaan sebagian umat Islam saat ini. Ketika Al Quran dengan tegas menganjurkan berislam secara kaffah namun masih terlalu banyak alasan untuk mengabaikan atau paling tidak menunda untuk sementara sebagian perintahnya. Padahal perjuangan Islam tidak bisa parsial.
Sebaik-baik manusia adalah yang mempelajari Al Quran dan mau mengajarkannya, begitu disebutkan dalam sebuah hadis. Tapi bukan berarti semua orang harus mengajarkan agama, mengajarkan Al Quran, berdakwah, mengajak orang beribadah. Karena pada kesempatan lain Rasulullah memotivasi orang terbaik di antara kamu adalah yang paling bermanfaat kepada orang sebanyak-banyaknya. Itu artinya, harus ada yang memikirkan ekonomi, sosial, budaya, dan sebagainya. Sehingga wajah Islam akan bisa kita jumpai di segenap elemen kehidupan. Bukan hanya di masjid atau mushalla…
Inkonsistensi. Seorang ustadz yang fasih berbicara anti kristenisasi dan anti yahudi, beristirahat sambil leyeh-leyeh menyulut rokok Mallboro, ditemani sekaleng Coca-Cola. Dan pada akhir pekan, dengan hati seringan awan mengenakan Nike saat keliling Carrefour. Tidak sadar bahwa dia telah berinvestasi kepada kaum kafir untuk membeli peluru, yang menjadi sebab syahidnya saudara mereka di Palestina, Afganistan, Kosovo dan banyak negeri Muslim lainnya.
Inkonsistensi. Kita rindu dengan syariat Islam, tetapi tidak bangga dengan ‘ideologi’ Islam. Lihat saja asas-asas partai-partai berplatform atau mengaku mewakili kelompok Islam yang diharapkan menyuarakan aspirasi umat. Mereka takut dengan kata-kata ‘Islam’. Kita lebih bangga dengan ideologi ashabiyah, dan merasa benar sendiri. Sindrom ‘merasa benar’ adalah awal ketertutupan wawasan dan sumbatan bagi ilmu. Kita masih saja berlaku demikian. Begitu bangga!
Tentang ukhuwah. Kata itu begitu indah didengar. Dan tentu saja mudah untuk diucapkan. Tapi mewujudkannya, butuh komitmen yang lebih. Muslim itu bersaudara, tak peduli asal sukunya, warna kulit, bahasa, atau segala rupa. Pun dari negara mana. Muslim sedunia adalah saudara, satu tubuh, satu bangunan yang saling melengkapi. Saling merasa bila cidera, saling mengerti bila terzalimi. Tapi apa lacur, bahkan kita acuh dengan kondisi mereka. Menutup mata tanpa merasa berdosa. Membiarkan mereka berjuang dalam ketidakberdayaan. ‘Biarkan Tuhan yang menjaganya.’ Kalimat itu rasanya tak pantas diucap. Sedang Allah pun mengutus laba-laba sebagai perantara menutup gua, saat Ia menolong Rasul mulia.
Selama umat Islam masih istiqamah dalam inkonsistensi. Tidak mau merubah diri dan cara berpikir secara global (khilafah). Enggan, bahkan cenderung acuh dengan kondisi saudara Muslim di luar wilayah mereka. Tanpa bermaksud meniadakan kekuatan Allah, rasanya jalan menuju kejayaan itu masih jauh. ‘hatta yu ghayyiru ma bi anfusihim.’
Wallahu a’lam bi shawwab.
Dari Ibnu Hamdani untuk umat Muslim sedunia.

Jumat, 21 November 2008

Islamica

The Ulama 'Alim No doubt, the position of Islamic theologian in a place special. Because of their advantages in knowledge, people become role models. To provide enlightenment at the same time pioneer welfare. Especially in the middle of the wave of globalization, which covered cultural lunturnya permissive and moral values as at this time. Attendance ulama are needed. Messenger never exceed the stated position of ulemas expert worship, "Indeed, the superiority of the learned experts of worship such as prioritized in the month of the entire star. Indeed, the theologian is the heir to the Prophet. And indeed the Prophet did not inherit a dinar, not the Dirham, the only knowledge they inherit. And anyone who takes science, then indeed, he has to get the most part. "(Sahih hadith, No by Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, Ibn Majah and Ibn Hibban) Of course, not all ulama meet the criteria mentioned above. Because in reality many of the ulama of religious attitudes and behavior but does not reflect a wise. They tend to make people confused, which is still 'the public. Ulema in the category that includes word in the face of the ulama 'pi. Ulema who understand the science about religion, not just memorize. With kepahamannya able to possess the wisdom and solutions to the problems faced by the people. Not exactly exploit the advantages that are owned by the meraup profit or private groups. Moreover, dare to sell the verses of the Quran and al keulamaannya status for the position. Skill in speaking is not a measure in assessing the ulama 'pi. Because of that ability can be so precisely to create a so-free turn back the word appropriate personal desire. Significance of this was disclosed by Ibn Mas'ud ra .. "Surely you are in an era where the number of ulamanya very much and little khutbahnya carpenters, and surely will come a period of very many khutbahnya amount of carping but little ulamanya." Now we need a parson 'pi. That not only preach in a smart, but also understand the science and religion is able to apply to fakihan it in the real reality. To provide Keteladanan "Indeed, there have been in the (self) Messenger is a good example for us (is) for those who expect (Mercy) and God (arrival) and the Day of Resurrection, he mentions many of God." (Al-Ahzab [33]: 21) This nation is saturated with a speech without realization. Saturated with quote verses of God as a stop at the lip penyeru propaganda. The people need to keteladanan in the form of life. Until now, not many people see Islam as a solution. Allah clearly states that only Islamlah which can be a road to salvation for mankind, in the world and in the Hereafter. Even less is not Islam itself would not fully accept the teachings of Islam despite the da'i theologian and no stopping explain how the teachings of Islam's in it. The people need more evidence. They talked about who's in it is more Islamic. However, people who could be a good example may be limited. But the need for the ulama take part in providing evidence of the beauty of Islam with the behavior that they do to people on the other. "A 'ulama who practice without such lights burn himself." (HR. Dailami) One of human nature is affected and affect (yata-atsar of yu-atsir). So that most human behavior is influenced by the environment. Messenger reminded, "A person is dependent on how i religion. Therefore you should consider who become friends.. " In other word out of a Messenger who are friends with the seller of perfume and a pande friends with iron. Keteladanan is the most effective way of propaganda. And this is the example of the Prophet Muhammad. When the western nations to spread Islam with sword. But the sword is a keteladanan and akhlakul karimah. Sword that is able to overcome without hurt, humiliate and subjugate without achieve victory without a feel humiliated. Looking only light of God "A 'pi if willed by God's light, the knowledge he can be by everything, and if he intends to accumulate wealth, they will be afraid of everything." (HR. Dailami) 'Ulama of' holy places the light of God in the highest position in each of the basic behavior. They are no longer affected by the worldly temptations that will quell violent propaganda. They will not be able to be purchased by anyone and anything. Because the ulama, to borrow the term Buya Hamka, has terbeli. The God is with the price that is not half-hearted: Paradise! "Allah has bought from the believers themselves and their property by giving them to heaven." (At Taubah [9]: 111) Quite ironic if we now witness the many people who claim themselves as a theologian, or regarded as role models tend to compete busy contend worldly affairs. 'Ulama such instead of good for people, which occurred even vice versa. Messenger, have been about this. "Woe on my Ummah from the poor parson." (Judges HR.) In other word mentioned, "When you see a theologian mingle closely with the authorities know that he is a thief." (HR. Dailami) May Allah give bounty in the middle of this nation with a theologian to bring light into the darkness, to bring the words heard in the conversation, attitudes and behavior. "Indeed, the fear of God among His slaves, but theologian." (Faathir [35]: 28) Wallahu a'lam bi shawwab. Eko Triyanto Students Ma'had 'Ali bin Abi Talib UMY Chairman of the Forum Study of Islam and Science 'Remassa' Yogyakarta Email: eko_nomisyariah@telkom.net Phone: 085228170077 Address: Nanggulan Sendangagung Minggir Sleman 55,562